Pages

Padi

Temukan tips-tips penanaman padi secara modern

Jagung

Temukan tips-tips penanaman jagung secara modern

Cabe Merah

Temukan tips-tips penanaman cabe merah secara modern

Tembakau

Temukan tips-tips penanaman tembakau secara modern

Tomat

Temukan tips-tips penanaman tomat secara modern

Melon

Temukan tips-tips penanaman melon secara modern

Semangka

Temukan tips-tips penanaman semangka secara modern

Terong

Temukan tips-tips penanaman terong secara modern

Rabu, 30 November 2011

BENIH PADI UNGGUL B3 (BERANAK DAN BERBULIR BANYAK)

Kerajaan Tani kini telah menyediakan benih padi unggul B3 yang mampu beranak dan memproduksi bulir banyak . Benih ini bukanlah benih padi hibrida yang hasil panennya tidak boleh ditanam ulang. Jika anda menyukainya anda boleh menanamnya lagi tentunnya dengan tehnik cara memproduksi benih padi unggul seperti yang telah saya tuliskan beberapa waktu yang lalu.
Benih unggul B3 (beranak dan berbulir banyak) ini telah melalui berbagai demplot di beberapa lokasi (daerah) :
  1. Bapak Kasman (Cindaga, Kab. Banyumas), Pada demplot ditempat Bapak Kasman benih padi ini mampu berproduksi 10,15 ton/ ha. Sedangkan rata-rata produksi padi didaerah tersebut (varietas IR 64, Ciherang, situbagendit, cilamaya dll) adalah 8,05 ton/ ha.
  2. Bapak Wirdal (Adipala, Kab. Cilacap), Ditangan Bapak Wirdal padi ini mampu berproduksi 9,52 ton/ ha. Rata-rata produksi padi di daerah tersebut sekitar 8,4 ton/ ha.
  3. Bapak Marjo (Gambarsari, Kab, Banyumas), Dengan cara penanaman semi organik (tanpa pestisida kimia dan hanya menggunakan pupuk urea sangat sedikit)padi ini mampu berproduksi 10 ton/ ha, biasanya beliau hanya mampu panen sekitar 8 ton/ ha.
  4. Bapak sansuhidi (Sawangan, Kab. Banyumas), dengan pengelolaan sederhana padi ini mampu berproduksi 9,52 ton/ ha dengan rata-rata produksi hanya 5,6 ton/ ha.
Dari hasil pengamatan ke empat demplot tersebut kami bisa mencatat beberapa spesifikasi benih padi unggul B3 (beranak dan berbulir banyak). Adapun spesifikasi benih padi tersebut adalah:
  1. Umur panen lebih cepat sekitar 5 hari dibanding IR 6 4 (kira-kira 85 hst dimusim kemarau dan 95 hst dimusim hujan).
  2. Potensi jumlah anakan sekitar 15-35/ rumpun (dengan jarak tanam 20 cm X 30 cm)
  3. Jumlah bulir sekitar 460-550/ malai
  4. Tanaman tahan terhadap kresek
  5. Tanaman tahan terhadap penyakit busuk leher
  6. Kurang tahan terhadap penyakit busuk pelepah
  7. Batang kokoh dan tahan roboh
  8. Lebar daun kurang lebih 2 cm
  9. Tinggi tanaman 120 cm
  10. Panjang malai 32-36 cm
  11. Daun tumbuh tegak sehingga tidak saling menutupi
  12. Nasi agak pulen
Jika kita lihat foto diatas, Coba bandingkan antara malai padi B3 (kiri) dan Malai padi Ciherang (kanan), jauh lebih banyak dan panjang malai padi B3 bukan?

Dari foto diatas malai padi B3 (atas dan bawah) jauh lebih banyak bulirnya dan lebih panjang malainya daripada malai padi ciherang (tengah)

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membudidayakan benih padi unggul B3 (beranak dan berbulir banyak) ini adalah:
  1. Usahakan tanam bibit muda sekitar 15 - 18 hss
  2. Gunakan jarak tanam 20 cm X 30 cm atau tergantung kesuburan (semakin subur semakin jarang)
  3. Gunakan sistem tanam legowo 4 : 1
  4. Jangan gunakan pupuk urea terlalu banyak, alihkan ke NPK
  5. Perbanyak pupuk organik baik yang padat maupun pupuk organik cair.
Untuk meningkatkan suatu produksi tanaman padi benih memegang peranan sangat penting bahkan bisa saya bilang benih adalah faktor utama. Faktor yang lain seperti pemupukan, pengairan, pengendalian hama penyakit dan tehnik budidaya yang lain hanyalah faktor pemaksimalan potensi benih. Bagaimanapun baiknya cara berbudidaya (pemupukan, pengendalian hama penyakit, pengairan dll) namun jika benih yang kita tanam jelek saya yakin hasilnya juga kurang memuaskan.
Ada beberapa faktor yang perlu kita lihat sebagai indikator bahwa benih tersebut layak untuk kita kembangkan:
  1. Daya adaptasi terhadap lingkungan.
  2. Kemampuan membentuk anakan.
  3. Kemampuan memproduksi bulir.
  4. Daya tahan terhadap hama penyakit.
Trimakasih atas kesediannya untuk membaca artikel tentang benih padi unggul B3 (beranak dan berbulir banyak) dari Kerajaan Tani
Jika anda berminat untuk mencoba silahkan hubungi kami.
NB: Mohon maaf bagi rekan-rekan Kerajaan Tani yang berminat dengan B3 ada sedikit salah informasi terhadap ketahanan terhadap busuk leher, ternyata benih padi B3 kurang tahan terhadap penyakit busuk malai atau patah leher. Sehingga petani yang mau tanam B3 bisa melakukan pencegahan secara dini.

TIPS MENANAM CABE DILUAR MUSIM

Salah satu pemicu fluktuasi harga cabe yang tidak stabil adalah karena luasan tanam yang tidak stabil. Ketika musim tanam para petani berbondong-bondong untuk menanam cabe sehingga luasan tanam cabe menjadi tak terkendali. Hal ini akan menyebabkan produksi cabe melimpah dan harga anjlok.  Padahan kebutuhan akan cabe lebih cenderung stabil. Begitu pula sebaliknya, jika diluar musim hanya sedikit petani yang tanam sehingga stok pasar sedikit yang mengakibatkan harga melonjak.
Salah satu cara untuk menstabilkan harga cabe adalah dengan mencoba memperluas tanam disaat diluar musim. Namun dengan cara tersebut bukan berarti tanpa kendala dalam budidayanya. Budidaya cabe di luar musim biasanya akan mendapat hambatan yang lebih besar.
Dengan pangaturan pola tanam berdasarkan  kuota luas tanam,  atau membatasi produksi pada masa bertanam normal, dan diikuti dengan melakukan budidaya diluar musim, diharapkan produksi dan harga cabe di pasar akan lebih stabil.
Untuk mengembangkan budidaya cabe diluar musim perlu diterapkan teknologi budidaya yang tepat dan biasanya berbeda dengan teknologi budidaya pada masa tanam biasa.  Dengan penerapan teknologi budidaya cabe merah yang ditanam pada musim penghujan diharapkan dapat dihasilkan cabe yang tidak kalah produksi dan kualitasnya dibanding produksi cabe yang pada ditanam pada musim kemarau.
Syarat tumbuh  untuk tanaman cabe antara lain tanah yang gembur, remah, tidak terlalu liat, tidak terlalu porous, kaya bahan organic dan  pH tanah 5,5 – 6,8.  Air yang diperlukan tersedia cukup dengan drainase yang baik.    Varietas yang dapat digunakan untuk budidaya cabe off season adalah cabe keriting TM 999, paris Minyak, cabe jatilaba, cabe besar Tit Super, cabe merah keriting lokal, Cabe hibrida (Hot Beauty, Hero).  Benih yang digunakan untuk budidaya off season ini hendaknya benih yang bebas dari hama dan penyakit, masak pohon, berwarna merah, daya tumbuh ± 80%, seragam dan bersih dari kotoran.
TEKNOLOGI BUDIDAYA
1. Pembibitan
  • Media pembibitan hendaknya disiapkan berupa campuran tanah subur dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1.  Pembibitan dapat dilakukan pada kantong plastic atau tempat pembibitan khusus;
  • Tempat pembibitan hendaknya ternaungi.  Penyiraman dilakukan setiap hari atau jika diperlukan;
  • Umur 25 – 30 hari bibit siap ditanam dilapangan.
2. Teknologi Penyiapan Lahan
Tanah dibersihkan dan dicangkul, hendaknya dibuat bedengan berukuran lebar 120 cm, tinggi 40 – 50 cm, dengan jarak antar bedengan 50 cm.  Jika pH rendah dapat diberi kapur dolomit sebanyak ± 2 ton/ha, bersamaan dengan pemberian pupuk kandang dan pupuk dasar pada saat pengolahan tanah tahap akhir. Sebagai pupuk dasar dapat diberikan pupuk Urea 300 kg/Ha, SP36 250 – 300 kg/Ha, KCl 250 kg/Ha, diaduk secara rata. Siram seluruh permukaan bedengan dengan air hingga lembab, kemudian tutup dengan mulsa plastik.
3. Pemasangan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP)
Mulsa plastik yang digunakan adalah 12 roll/Ha. Pemasangan mulsa dilakukan pada saat terik matahari agar memeudahkan plastik mengembang dan mudah ditarik.  MPHP ditebarkan diatas bedengan, warna perak menghadap ke tas den warna hitam menghadap ke tanah. Ttepi-tepi MPHP ditarik kuat ke arah bawah hingga terasa mengembang. Jepit tepi plastik dengan bilah bambu tipis sepanjang 40 cm disepanjang tepinya pada setiap jarak 40 – 50 cm.
4. Penanaman
Llubang tanam dibuat dengan jarak tanam 60 cm dalam barisan dan 70 – 80 cm antar barisan. Bibit yang telah disiapkan sebaiknya ditanam pada pagi atau sore hari.
5. Pemeliharaan
Penyulaman dilakukan paling lambat 1 minggu untuk mengganti bibit yang mati atau sakit. Pengairan diberikan dengan cara di leb atau disiram per lubang. Untuk menopang berdirinya tanaman dapat diberi ajir setinggi 125 cm.  Tunas – tunas air yang tumbuh di bawah cabang utama dipangkas.

PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN (OPT) Pengendalian lalat buah yang sering merusak buah cabe dapat dilakukan dengan memasang perangkap berisi methyl eugenol. Pengendalian hama dan penyakit lainnya dilakukan dengan menggunakan pestisida sesuai kebutuhan dengan dosis yang sesuai petunjuk.

TEKNOLOGI PANEN DAN PASCA PANEN Umur 60 – 70 hari setelah tanam, cabe dapat dipanen. Buah yang dipanen sudah berwarna merah. Kemasan untuk pengangkutan cabe diberi lubang angin yang cukup atau menggunakan karung jala. Tempat penyimpanan harus kering, sejuk dan cukup sirkulasi udara.
Demikian  sekilas tentang bagaimana cara menanam cabe diluar musim. Ada yang berani mencoba?

BUDIDAYA STROBERI SECARA MODERN

1. SEJARAH SINGKAT 
Stroberi ( Fragaria chiloensis L. / F. vesca L. ) merupakan tanaman buah berupa herba yang ditemukan pertama kali di Chili, Amerika. Salah satu spesies tanaman stroberi yaitu Fragaria chiloensis L menyebar ke berbagai negara Amerika, Eropa dan Asia. Selanjutnya spesies lain, yaitu F. vesca L. lebih menyebar luas dibandingkan spesies lainnya. Jenis stroberi ini pula yang pertama kali masuk ke Indonesia.

2. JENIS TANAMAN
Klasifikasi botani tanaman stroberi adalah sebagai berikut :
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Keluarga : Rosaceae
Genus : Fragaria
Spesies : Fragaria spp.
Stroberi yang kita temukan di pasar swalayan adalah hibrida yang dihasilkan dari persilangan F. virgiana L. var Duchesne asal Amerika Utara dengan F. chiloensis L. var Duchesne asal Chili. Persilangan itu menghasilkan hibrid yang merupakan stroberi modern (komersil) Fragaria x annanassa var Duchesne.
Varitas stroberi introduksi yang dapat ditanam di Indonesia adalah Osogrande, Pajero, Selva, Ostara, Tenira, Robunda, Bogota, Elvira, Grella dan Red Gantlet. Di Cianjur ditanam varitas Hokowaze asal Jepang yang cepat berbuah. Petani Lembang (Bandung) yang sejak lama menanam stroberi, menggunakan varitas lokal Benggala dan Nenas yang cocok untuk membuat makanan olahan dari stroberi seperti jam.

3. MANFAAT TANAMAN

Buah stroberi dimanfaatkan sebagai makanan dalam keadaan segar atau olahannya. Produk makanan yang terbuat dari stroberi telah banyak dikenal misalnya sirup, jam, ataupun stup (compote) stroberi.

4. SENTRA PENANAMAN
Dapat dikatakan bahwa budidaya stroberi belum banyak dikenal dan diminati. Karena memerlukan temperatur rendah, budidaya di Indonesia harus dilakukan di dataran tinggi. Lembang dan Cianjur (Jawa Barat) adalah daerah sentra pertanian di mana petani sudah mulai banyak membudidayakan stroberi. Dapat dikatakan bahwa untuk saat ini, kedua wilayah tersebut adalah sentra penanaman stroberi.

5. SYARAT PERTUMBUHAN

5.1. Iklim
1) Tanaman stroberi dapat tumbuh dengan baik di daerah dengan curah hujan 600-700 mm/tahun.
2) Lamanya penyinaran cahaya matahari yang dibutuhkan dalam pertumbuhan adalah 8–10 jam setiap harinya.
3) Stroberi adalah tanaman subtropis yang dapat beradaptasi dengan baik di dataran tinggi tropis yang memiliki temperatur 17–20 derajat C.
4) Kelembaban udara yang baik untuk pertumbuhan tanaman stroberi antara 80-90%.
5.2. Media Tanam
1) Jika ditanam di kebun, tanah yang dibutuhkan adalah tanah liat berpasir, subur, gembur, mengandung banyak bahan organik, tata air dan udara baik.
2) Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang ideal untuk budidaya stroberi di kebun adalah 5.4-7.0, sedangkan untuk budidaya di pot adalah 6.5–7,0.
3) Jika ditanam dikebun maka kedalaman air tanah yang disyaratkan adalah 50-100 cm dari permukaan tanah. Jika ditanam di dalam pot, media harus memiliki sifat poros, mudah merembeskan airdan unsur hara selalu tersedia.
5.3. Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat yang memenuhi syarat iklim tersebut adalah 1.000-1.500 meter dpl.

6. PEDOMAN BUDIDAYA

6.1. Pembibitan
Stroberi diperbanyak dengan biji dan bibit vegetatif (anakan dan stolon atau akar sulur). Adapun kebutuhan bibit per hektar antara 40.000-83.350.
1) Perbanyakan dengan biji
1. Benih dibeli dari toko pertanian, rendam benih di dalam air selama 15 menit lalu keringanginkan.
2. Kotak persemaian berupa kotak kayu atau plastik, diisi dengan media berupa campuran tanah, pasir dan pupuk kandang (kompos) halus yang bersih (1:1:1). Benih disemaikan merata di atas media dan tutup dengan tanah tipis. Kotak semai ditutup dengan plastik atau kaca bening dan disimpan pada temperatur
18-20 derajat C.
3. Persemaian disiram setiap hari, setelah bibit berdaun dua helai siap dipindahtanam ke bedeng sapih dengan jarak antar bibit 2-3 cm. Media tanam bedeng sapih sama dengan media persemaian. Bedengan dinaungi dengan plastik bening. Selama di dalam bedengan, bibit diberi pupuk daun. Setelah berukuran 10 cm dan tanaman telah merumpun, bibit dipindahkan ke kebun.
2) Bibit vegetatif untuk budidaya stroberi di kebun
Tanaman induk yang dipilih harus berumur 1-2 tahun, sehat dan produktif. Penyiapan bibit anakan dan stolon adalah sebagai berikut:
1. Bibit anakan
Rumpun dibongkar dengan cangkul, tanaman induk dibagi menjadi beberapa bagian yang sedikitnya mengandung 1 anakan. Setiap anakan ditanam dalam polibag 18 x 15 cm berisi campuran tanah, pasir dan pupuk kandang halis (1:1:1), simpan di bedeng persemaian beratap plastik.
2. Bibit stolon
Rumpun yang dipilih telah memiliki akar sulur pertama dan kedua. Kedua akar sulur ini dipotong. Bibit ditanam di dalam atau polibag 18 x 15 cm berisi campuran tanah, pasir dan pupuk kandang (1:1:1). Setelah tingginya 10 cm dan berdaun rimbun, bibit siap dipindahkan ke kebun.
3) Bibit untuk budidaya stroberi di polibag
Pembibitan dari benih atau anakan/stolon dilakukan dengan cara yang sama, tetapi media tanam berupa campuran gabah padi dan pupuk kandang (2:1). Setelah bibit di persemaian berdaun dua atau bibit dari anakan/stolon di polibag kecil (18 x15) siap pindah, bibit dipindahkan ke polibag besar ukuran 30 x 20 cm
berisi media yang sama. Di polibag ini bibit dipelihara sampai menghasilkan.
6.2. Pengolahan Media Tanam
1) Budidaya di Kebun Tanpa Mulsa Plastik
a) Di awal musim hujan, lahan diolah dengan baik sedalam 30-40 cm.
b) Keringanginkan selama 15-30 hari.
c) Buat bedengan: lebar 80 x 100 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar bedengan 40 x 60 cm atau guludan: lebar 40 x 60 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar guludan 40x 60 cm.
d) Taburkan 20-30 ton/ha pupuk kandang/kompos secara merata di permukaan bedengan/ guludan.
e) Biarkan bedengan/guludan selama 15 hari.
f) Buat lubang tanam dengan jarak 40 x 30 cm, 50 x 50 cm atau 50 x 40 cm.
2) Budidaya di Kebun Dengan Mulsa Plastik.
a) Di awal musim hujan, lahan diolah dengan baik dan keringanginkan 15-30 hari.
b) Buatlah bedengan: lebar 80 x 120 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar bedengan 60 cm atau guludan: lebar bawah 60 cm, lebar atas 40 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar bedengan 60 cm.
c) Keringanginkan 15 hari.
d) Taburkan dan campurkan dengan tanah bedengan/guludan 200 kg urea, 250 kg SP-36 dan 100 kg/ha KCl.
e) Siram hingga lembab.
f) Pasang mulsa plastik hitam atau hitam perak menutupi bedengan/guludan dan kuatkan ujung-ujungnya dengan bantuan bambu berbentuk U.
g) Buat lubang di atas plastik seukuran alas kaleng bekas susu kental manis. Jarak antar lubang dalam barisan 30, 40 atau 50 cm, sehingga jarak tanam menjadi 40 x 30, 50 x 50 atau 50 x 40 cm.
h) Buat lubang tanam di atas lubang mulsa tadi.
3) Pengapuran
Bila tanah masam, 2-4 ton/ha kapur kalsit/dolomit ditebarkan di atas bedengan/guludan lalu dicampur merata. Pengapuran dilakukan segera setelah bedengan/guludan selesai dibuat.
6.3. Teknik Penanaman
1) Siram polybag berisi bibit dan keluarkan bibit bersama media tanamnya dengan hati-hati.
2) Tanam satu bibit di lubang tanam dan padatkan tanah di sekitar pangkal batang.
3) Untuk tanaman tanpa mulsa, beri pupuk dasar sebanyak 1/3 dari dosis pupuk anjuran (dosis anjuran 200 kg/ha Urea, 250 kg SP-36 dan 150 kg/ha KCl). Pupuk diberikan di dalam lubang sejauh 15 cm di kiri-kanan tanaman.
4) Sirami tanah di sekitar pangkal batang sampai lembab.
6.4. Pemeliharaan Tanaman
1) Penyulaman
Penyulaman dilakukan sebelum tanaman berumur 15 hari setelah tanam. Tanaman yang disulam adalah yang mati atau tumbuh abnormal.
2) Penyiangan
Penyiangan dilakukan pada pertanaman stroberi tanpa ataupun dengan mulsa plastik. Mulsa yang berada di antara barisan/bedengan dicabut dan dibenamkan ke dalam tanah. Waktu penyiangan tergantung dari pertumbuhan gulma, biasanya dilakukan bersama pemupukan susulan.
3) Perempelan/Pemangkasan
Tanaman yang terlalu rimbun, terlalu banyak daun harus dipangkas. Pemangkasan dilakukan teratur terutama membuang daun-daun tua/rusak. Tanaman stroberi diremajakan setiap 2 tahun.
4) Pemupukan
a) Pertanaman tanpa mulsa: Pupuk susulan diberikan 1,5-2 bulan setelah tanam sebanyak 2/3 dosis anjuran. Pemberian dengan cara ditabur dalam larikan dangkal di antara barisan, kemudian ditutup tanah.
b) Pertanaman dengan mulsa: Pupuk susulan ditambahkan jika pertumbuhan kurang baik. Campuran urea, SP-36 dan KCl (1:2:1,5) sebanyak 5 kg dilarutkan dalam 200 liter air. Setiap tanaman disiram dengan 350-500 cc larutan pupuk.
5) Pengairan dan Penyiraman
Sampai tanaman berumur 2 minggu, penyiraman dilakukan 2 kali sehari. Setelah itu penyiraman dikurangi berangsur-angsur dengan syarat tanah tidak mengering. Pengairan bisa dengan disiram atau menjanuhi parit antar bedengan dengan air.
6) Pemasangan Mulsa Kering
Mulsa kering dipasang seawal mungkin setelah tanam pada bedengan/ guludan yang tidak memakai mulsa plastik. Jerami atau rumput kering setebal 3–5 cm dihamparkan di permukaan bedengan/guludan dan antara barisan tanaman.

7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Hama
1) Kutu daun (Chaetosiphon fragaefolii)
Kutu berwarna kuning-kuning kemerahan, kecil (1-2 mm), hidup bergerombol di permukaan bawah daun. Gejala: pucuk/daun keriput, keriting, pembentukan bunga/buah terhambat. Pengendalian: dengan insektisida Fastac 15 EC dan Confidor 200 LC.
2) Tungau (Tetranychus sp. dan Tarsonemus sp.)
Tungau berukuran sangat kecil, betina berbentuk oval, jantan berbentuk agak segi tiga dan telur kemerah-merahan. Gejala: daun berbercak kuning sampai coklat, keriting, mengering dan gugur. Pengendalian: dengan insektisida Omite 570 EC, Mitac 200 EC atau Agrimec 18 EC.
3) Kumbang penggerek bunga (Anthonomus rubi), kumbang penggerek akar (Otiorhynchus rugosostriatus) dan kumbang penggerek batang (O. sulcatus). Gejala : di bagian tanaman yang digerek terdapat tepung. Pengendalian: dengan insektisida Decis 2,5 EC, Perfekthion 400 EC atau Curacron 500 EC pada waktu menjelang fase berbunga.
4) Kutu putih (Pseudococcus sp.)
Gejala: bagian tanaman yang tertutupi kutu putih akan menjadi abnormal. Pengendalian : kimia dengan insektisida Perfekthion 400 EC atau Decis 2,5 EC.
5) Nematoda (Aphelenchoides fragariae atau A. ritzemabosi)
Hidup di pangkal batang bahkan sampai pucuk tanaman. Gejala : tanaman tumbuh kerdil, tangkai daun kurus dan kurang berbulu. Pengendalian: dengan nematisida Trimaton 370 AS, Rugby 10 G atau Nemacur 10 G.
7.2. Penyakit
1) Kapang kelabu (Botrytis cinerea)
Gejala : bagian buah membusuk dan berwarna coklat lalu mengering. Pengendalian: dengan fungisida Benlate atau Grosid 50 SD.
2) Busuk buah matang (Colletotrichum fragariae Brooks)
Gejala : bah masak menjadi kebasah-basahan berwarna coklat muda dan buah dipenuhi massa spora berwarna merah jambu. Pengendalian: dengan fungisida berbahan aktif tembaga seperti Kocide 80 AS, Funguran 82 WP, Cupravit OB 21.
3) Busuk rizopus (Rhizopus stolonifer).
Gejala: (1) buah busuk, berair, berwarna coklat muda dan bila ditekan akan mengeluarkan cairan keruh; (2) di tempat penyimpanan, buah yang terinfeksi akan tertutup miselium jamur berwarna putih dan spora hitam. Pengendalian : membuang buah yang sakit, pasca panen yang baik dan budidaya dengan mulsa plastik.
4) Empulur merah (Phytophthora fragariae Hickman)
Gejala : jamur menyerang akar sehingga tanaman tumbuh kerdil, daun tidak segar, kadang-kadang layu terutama siang hari.
5) Embun tepung (Sphaetotheca mascularis atau Uncinula necator).
Gejala : bagian yang terserang, terutama daun, tertutup lapisan putih tipis seperti tepung, bunga akan mengering dan gugur. Pengendalian: dengan fungisida Benlate atau Rubigan 120 EC.
6) Daun gosong (Diplocarpon earliana atau Marssonina fragariae)
Gejala : Daun berbercak bulat telur sampai bersudut tidak teratur, berwarna ungu tua. Pengendalian kimia dengan fungisida Dithane M-45 atau Antracol 70 WP.
7) Bercak daun
Penyebab : (1) Ramularia tulasnii atau Mycosphaerella fragariae, Gejala: bercak kecil ungu tua pada daun. Pusat bercak berwarna coklat yang akan berubah menjadi putih; (2) Pestalotiopsis disseminata, Gejala : bercak bulat pada daun. Pusat bercak berwarna coklat fua dikelilingi bagian tepi berwarna coklat kemerahan atau kekuningan, daun mudah gugur; (3) Rhizoctonia solani, Gejala : bercak coklat-hitam besar pada daun. Pengendalian kimia dengan fungisida bahan aktif tembaga seperti Funguran 82 WP, Kocide 77 WP atau Cupravit OB21.
8) Busuk daun (Phomopsis obscurans).
Gejala : noda bula berwarna abu-abu dikelilingi warna merah ungu, kemudian noda membentuk luka mirip huruf V. Pengendalian: dengan Dithane M-45, Antracol 70 WP atau Daconil 75 WP.
9) Layu vertisillium (Verticillium dahliae)
Gejala : daun terinfeksi berwarna kekuning-kuningan hingga coklat, layu dan tanaman mati. Pengendalian : melalui fumigasi gas dengan Basamid-G.
10) Virus
Ditularkan melalui serangga aphids atau tungau. Gejala : terjadi perubahan warna daun dari hijau menjadi kuning (khlorosis) sepanjang tulang daun atau totol-totol (motle), daun jadi keriput, kaku, tanaman kerdil. Pengendalian : menggunakan bibit bebas virus, menghancurkan tanaman terserang, menyemprot pestisida
untuk mengendalikan serangga pembawa virus. Pencegahan hama dan penyakit umumnya dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kebun/tanaman, menanam secara serempak (untuk memutus siklus hidup), menanam bibit yang sehat, memberikan pupuk sesuai anjuran sehingga tanaman tumbuh sehat, melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan keluarga Rosaceae dan memangkas bagian tanaman/mencabut tanaman yang sakit. Membudidayakan stroberi dengan mulsa plastik juga akan menekan pertumbuhan
hama/penyakit. Khusus untuk penyakit, perbaikan drainase biasanya dapat menurunkan serangan.

8. PANEN

Tanaman asal stolon dan anakan mulai berbung ketika berumur 2 bulan setelah tanam. Bunga pertama sebaiknya dibuang. Setelah tanaman berumur 4 bulan, bunga dibiarkan tumbuh menjadi buah. Periode pembungaan dan pembuahan dapat berlangsung selama 2 tahun tanpa henti.
8.1. Ciri dan Umur Panen
1) Buah sudah agak kenyal dan agak empuk.
2) Kulit buah didominasi warna merah: hijau kemerahan hingga kuning kemerahan.
3) Buah berumur 2 minggu sejak pembungaan atau 10 hari setelah awal pembentukan buah.
8.2. Cara Panen
Panen dilakukan dengan menggunting bagian tangkai bunga dengan kelopaknya. Panen dilakukan dua kali seminggu.
7.3. Perkiraan Produksi
Produktivitas tanaman stroberi tergantung dari varietas dan teknik budidaya:
a) Varitas Osogrande: 1,2 kg/tanaman/tahun.
b) Varitas Pajero: 0,8 kg/tanaman/tahun.
c) Varitas Selva: 0,6-0,7 kg/tanaman/tahun.
Teknik budidaya stroberi dengan naungan UV memberikan hasil 1-1,25 kg/tanaman/tahun.

9. PASCAPANEN

9.1. Pengumpulan
Buah disimpan dalam suatu wadah dengan hati-hati agar tidak memar, simpan di tempat teduh atau dibawa langsung ke tempat penampungan hasil. Hamparkan buah di atas lantai beralas terpal/plastik. Cuci buah dengan air mengalir dan tiriskan di atas rak-rak penyimpanan.
9.2. Penyortiran dan Penggolongan
Pisahkan buah yang rusak dari buah yang baik. Penyortiran buah berdasarkan pada varietas, warna, ukuran dan bentuk buah. Terdapat 3 kelas kualitas buah yaitu :
a) Kelas Ekstra: (1) buah berukuran 20-30 mm atau tergantung spesies; (2) warna dan kematangan buah seragam.
b) Kelas I: (1) buah berukuran 15-25 mm atau tergantung spesies; (2) bentuk dan warna buah bervariasi.
c) Kelas II: (1) tidak ada batasan ukuran buah; (2) sisa seleksi kelas ekstra dan kelas I yang masih dalam keadaan baik.
9.3. Pengemasan dan Penyimpanan
Buah dikemas di dalam wadah plastik transparan atau putih kapasitas 0,25-0,5 kg dan ditutup dengan plastik lembar polietilen. Penyimpanan dilakukan di rak dalam lemari pendingin 0-1 derajat C.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN
10.1 Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya 1 hektar stroberi selama 2 tahun dengan jarak tanam 50 x 40 cm mengunakan mulsa plastik hitam perak (MPHP) di daerah Jawa Barat pada tahun 1999.
1) Biaya produksi
1. Sewa tanah selama 2 tahun Rp. 5.000.000,-
2. Bibit 50.000 anakan @ Rp. 1.000,- Rp. 50.000.000,-
3. Pupuk dan kapur
- Pupuk kandang 30 ton @ Rp. 150.000,- Rp. 4.500.000,-
- Urea: 2 x 200 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 600.000,-
- SP-36: 2 x 250 kg @ Rp. 1.800,- Rp. 900.000,-
- KCl: 2 x 100 kg @ Rp. 1.800,- Rp. 360.000,-
- Kapur: 4 ton @ Rp. 400.000 Rp. 1.600.000,-
- Pupuk daun: 20 kg @ Rp. 20.000 Rp. 400.000,-
4. Pestisida 20 kg Rp. 1.300.000,-
5. Peralatan dan bangunan
- Mulsa plastik 20 rol @ Rp. 300.000,- Rp. 6.000.000,-
- Alat pertanian Rp. 1.250.000,-
- Gubug 1 unit Rp. 1.000.000,-
6. Tenaga kerja
- Pengolahan tanah, buat bedeng: 150 HKP @ Rp.7.500,- Rp. 1.125.000,-
- Pupuk, kapur dan pasang mulsa 50 HKP Rp. 375.000,-
- Penanaman 10 HKP + 30 HKW (@ Rp. 5.000) Rp. 225.000,-
- Pemeliharaan 2 tahun 80 HKP + 100 HKW Rp. 1.100.000,-
- Gaji pekebun 2 orang selama 2 tahun Rp. 12.000.000,-
7. Panen dan pascapanen
- Panen dan pasca panen 100 HKP + 200 HKW Rp. 1.750.000,-
8. Lain-lain : Pajak dan iuran Rp. 500.000,-
Jumlah biaya produksi Rp. 89.985.000,-
2) Produksi 1 th/ha: 0,45 kg/tahun x 40.000 tanaman x Rp. 5.500,- Rp.198.000.000,-
3) Keuntungan selama 2 tahun Rp.108.015.000,-
Keuntungan per tahun Rp. 54.007.500,-
4) Parameter kelayakan usaha
1. Output/Input rasio (dalam 1 tahun) = 1,1
Keterangan: HKP Hari kerja Pria, HKW Hari kerja wanita.
10.2.Gambaran Peluang Agribisnis
Buah stroberi enak rasanya, harum dan sangat menarik dipandang, jadi pertanaman
stroberi bisa atau berpotensi dijadikan kawasan agrowisata dimana pengunjung
dapat memetik langsung buah di bawah pengawasan.
11. STANDAR PRODUKSI
11.1.Ruang Lingkup
Standard ini meliputi klasifikasi/penggolongan dan syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan dan cara pengemasan.
11.2.Diskripsi

11.3.Klasifikasi dan Standar Mutu
Berdasarkan ukurannya, stroberi diklasifikasikan menjadi 4 kelas yaitu:
Kelas AA: > 20 gram/buah
Kelas A : 11-20 gram/buah
Kelas B : 7-12 gram/buah
Kelas C1 : 7-8 gram/buah
Kualitas stroberi ditentukan oleh rasa (manis-agak asam-asam), kemulusan kulit dan luka mekanis akibat benturan atau hama-penyakit.
11.4.Pengambilan Contoh
Satu partai/lot buah stroberi terdiri dari maksimum 1.000 kemasan. Contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan dalam 1 (satu) partai/lot.
a) Jumlah kemasan dalam partai/lot 1 s/d 5, contoh pengambilan semua
b) Jumlah kemasan dalam partai/lot 6 s/d 100, contoh pengambilan sekurangkurangnya 5
c) Jumlah kemasan dalam partai/lot 101 s/d 300, contoh pengambilan sekurangkurangnya 7
d) Jumlah kemasan dalam partai/lot 301 s/d 500, contoh pengambilan sekurangkurangnya 9
e) Jumlah kemasan dalam partai/lot 501 s/d 1000, contoh pengambilan sekurangkurangnya 10
Petugas pengambil contoh harus orang yang memenuhi persyaratan yaitu orang yang telah berpengalaman atau dilatih lebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan suatu badan hukum.
11.5.Pengemasan
Buah stroberi segar disajikan dalam bentuk lepasan, dibungkus bahan kertas, jaring plastik atau bahan laian yang sesuai, lalu dikemas dengan keranjang bambu atau kotak karton/kayu/bahan lain yang sesuai dengan atau tanpa penyangga, dengan berat bersih maksimum 10 kg.
Pada bagian luar kemasan, diberi label yang bertuliskan antara lain :
a) Produksi Indonesia.
b) Nama barang/kultivar.
c) Golongan ukuran.
d) Jenis mutu.
e) Nama Pprusahaan/eksportir.
f) Berat bersih/kotor.

12. DAFTAR PUSTAKA

1) Dr. Livy Winata Gunawan, Ir. Stroberi. 1996. Penebar Swadaya. Jakarta
2) H.Rahmat Rukmana, Ir. 1998. Stroberi Budidaya dan Pascapanen. Penerbit Kanisius Yogyakarta.
3) Onny Untung. 1999. Stroberi Pagi di Bali Sore di Jakarta. Trubus no. 350 hal. 52-53.
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id

JAMBU METE SEBAGAI PESTISIDA NABATI (Anacardium occidentale)

Mencoba menggali potensi alam disekitar kita, Kerajaan Tani sedikit memberikan informasi tentang manfaat kulit mete sebagai pestisida nabati. Walaupun maspary belum sampai mempraktekkannya  (karena daerah kami nggak ada tanaman jambu mete) tapi kami mengharapkan informasi tentang jambu mete sebagai pestisida nabati ini bisa dijadikan sebagai dasar pemikiran pemanfaatan limbah mete.
Mete yang gurih lantaran tinggi kalori dan kaya serat itu sebenarnya adalah buah sejati jambu monyet atau jambu mete (Anacardium occidentale). Sedangkan buah yang mirip jambu itu sebenarnya adalah buah semu yang berasal dari tangkai yang membesar.
Kerabat jambu air itu bandel dan tangguh karena masih mampu berbuat lebat pada musim kemarau yang kering bahkan meskipun hidup didaerah yang tandus, gersang dan berkapur. Itulah sebabnya kenapa pohon jambu mete banyak dijumpai didaerah yang gersang dan kering.
Namun manfaat jambu mete ternyata bukan hanya untuk makanan saja, kulit mete yang biasanya hanya terbuang percuma bisa kita gunakan sebagai pestisida nabati karena mengandung asam anakardat. Struktur asam anakardat mirip dengan asam salisilat yang mampu menghambat pertumbuhan hifa cendawan/ jamur.
Di India (negara utama pemasok kacang mete dunia) kulit mete diolah menjadi cashew nut shell liquid (CNSL). CNSL dimanfaatkan sebagai pestisida nabati yang ampuh mengendalikan berbagai cendawan, macam-macam ulat dan siput.
Ada yang mempunyai limbah kulit mete disekitar kita ? 
Kenapa tidak kita coba memanfatkannya sebagai pestisida nabati?

TIPS JITU MENGENDALIKAN LALAT BUAH (Tephritidae)

Di musim hujan seringkali kita menemui buah-buahan yang rontok sebelum matang, kadang kala buah berwarna kuning dan keriput, terlihat bintik hitam kecil pada bagian kulit buah. Hal tersebut merupakan beberapa gejala serangan lalat buah (Bactrocera sp, Dacus dorsalis). Hati-hati!! lalat buah bisa menyerang banyak sekali tanaman sehingga sulit sekali dikendalikan, sebagai contoh tanaman yang biasa diserang lalat buah adalah nangka, belimbing, mangga, tomat, cabai, lengkeng, melon, pepaya, mentimun, paria dll. Selain itu ternyata lalat buah itu memiliki banyak sekali spesies, kalau nggak salah sekitar 60 an jenis spesies. Oleh karena itu kali ini Kerajaan Tani akan sedikit mengulas tentang tips jitu mengendalikan hama lalat buah (Bactrocera sp, Dacus dorsalis).
Lalat buah biasanya berukuran 1-6 mm, berkepala besar, berleher sangat kecil. Warnanya sangat bervariasi mulai kuning cerah, orange, hitam, cokelat, atau kombinasinya.  Disebut tephritidae (berarti bor) karena terdapat ovipositor pada lalat betina  yang berfungsi untuk memasukkan telur ke dalam buah.

SIKLUS HIDUP LALAT BUAH (Bactrocera sp, Dacus dorsalis) :
  1. Lalat betina menyuntikkan 50 – 100 telurnya kedalam buah yang masih muda.
  2. Setelah 2 - 5 hari telur tersebut telah menetas menjadi belatung dan segera merusak buah
  3. 4 – 7 hari belatung keluar dari daging buah dengan cara melubangi kulit buah dan segera menjatuhkan diri dan menjadi pupa didalam tanah
  4. Setelah 3 – 5 hari pupa berubah menjadi lalat dan setelah 1 menit lalat tersebut langsung mengudara.
TIPS JITU MENGENDALIKAN LALAT BUAH:
  1. Sanitasi. Jagalah kebersihan. Buang/ pangkas buah yang telah terserang dan pendam dalam tanah. Tanah disekitar tanaman dicangkul dan dibalik agar pupa yang ada dalam tanah mati. Sampah/ seresah disekitar tanaman juga harus dikumpulkan dan dibakar atau dipendam dalam tanah.
  2. Budidaya yang baik. Lakukan pemangkasan pada tanaman buah agar tajuk bisa terbentuk dan mengurangi kerimbunan kanopi.
  3. Gunakan perangkap lem kuning untuk mencegah dan mengurangi serangan lalat buah. lem-perangkap-kuning
  4. Gunakan perangkap metyl eugenol untuk menangkap lalat jantan. Tapi ingat jangan meletakkan perangkap dalam tengah lokasi pertanaman, sebaikknya di pinggir saja agar lalat tidak terkumpul ditengah pertanaman.perangkap-metyl-eugenol
  5. Pembungkusan buah dengan menggunakan kertas, daun pisang, anyaman daun kelapa, karung, duk, atau plastik pada tanaman buah-buahan dan paria. Lakukan pembungkusan sebelum buah terserang atau sedini mungkin setelah pentil buah terbentuk.membungkus-buah
  6. Gunakan insektisida kimia jika telah menggunakan pengendalian 1 – 5 ternyata masih terjadi serangan. Menurut pengalaman maspary dengan menggunakan insektisida piretroid sintetik yang kuat seperti Deltametrin 25 EC, Betasiflutrin 25 EC, Lamdasihalotrin 25 EC dan Sipermetri 100 EC dengan konsentrasi 1 ml/ liter biasanya sudah mampu mengendalikan hama lalat buah ini. Yang perlu diperhatikan adalah waktu dan cara penyemprotannya. Lakukan penyemprotan saat pagi-pagi sekali sebelum jam 6 pagi dan semprot bagian bawah daun secara merata dan mengabut.delta-metrin-decis
6 tips jitu mengendalikan lalat buah  tersebut merupakan tips yang biasa dilakukan oleh petani kita, sedangkan cara pengendalian dengan cara penggunaan musuh alami dan pengasapan masih jarang dan sulit dilakukan oleh petani kita.  Semoga artikel yang maspary tulis tersebut bisa bermanfaat bagi rekan-rekan Kerajaan Tani yang sedang mengalami gangguan hama lalat buah.

INSEKTISIDA MIKROBIOLOGI (Insektisida dan Akarisida Alami II)

Seperti janji saya kemarin dalam pertemuan kali ini Maspary masih melanjutkan artikel dari Bpk Panut Djojosumarto yang bertema insektisida dan akarisida yang berasal dari alam, kali ini yang akan Kerajaan Tani postingkan adalah tentang Insektisida Mikrobiologi.
Ternyata potensi pengembangan insektisida mikrobiologi masih sangat terbuka dan kenyataan dilapangan belum banyak dimanfaatkan oleh petani Indonesia.  Marilah kita pelajari bersama tentang Insektisida dan akarisida yang berasal dari alam untuk mengurangi ketergantungan kita pada pestisida kimia. Marilah kita manfaatkan keanekaragaman hayati disekitar kita untuk mengefisienkan biaya produksi usaha tani kita.
Bagi rekan-rekan Kerajaan Tani yang belum sempat membaca artikel dari Panut Djojosumarto sebelumnya yang berjudul Insektisida dan Akarisida Alami I silahkan baca dulu Klik disini.


Insektisida Mikrobiologi

Mikroorganisme berasosiasi dengan serangga dengan berbagai macam cara, mulai dari asosiasi mutualistik (simbiose) sampai yang bersifat parasitik. Mikroorganisme parasit ini dapat menyebabkan penyakit bagi serangga, dan dikenal sebagai patogen serangga (entomopatogen). Telah diketahui bahwa ada sekitar 1500 spesies mikroba menyebabkan penyakit pada antropoda, termasuk serangga.
Berbagai patogen serangga yang telah dimanfaatkan sebagai insektisida mikrobiologi ditampilkan di bawah ini. Banyak diantaranya telah diproduksi secara komersial.

  1. Insektisida Dari Jamur
    Beauveria spp.
    Hirsutela thompsonii (akarisida)
    Lagenidium giganteum
    Lecanicillium lecanii (dahulu Verticillium lecanii)
    Metarhizium spp
    Paecilomyces fumosoroseus (+ akarisida)
  2. Insektisida Dari Bakteri Bacillus spp.
    Paenobaccilus popilliae (dahulu Bacillus popilliae)
    Serratia entomophila
  3. Insektisida Dari Nematoda
    Heterorhabditis spp.
    Steinernematidae spp.
  4. Insektisida Dari Protozoa: Microsporidium
    Nosema locustae
    Vairimorpha necatrix
  5. Insektisida Dari Virus
    Granulosis virus (GV)
    Nucleopolyhedro virus (Nuclear Polyhedrosis Virus, NPV)

Insektisida Mikrobiologi: Jamur

Tidak seperti patogen serangga lainnya ( misalnya bakteri dan virus) yang umumnya harus di makan dan dicerna agar dapat menginfeksi inangnya, jamur dapat menginfeksi inangnya (dalam hal ini serangga hama) dengan cara penetrasi langsung. Apabila spora jamur menempel pada kulit serangga, dan apabila kondisi mendukung, maka spora akan berkecambah, menembus kutikula serangga dan masuk kedalam tubuh serangga. Dalam tubuh serangga jamur akan berkembang membentuk hifa dan miselium hingga memenuhi bagian dalam tubuh serangga, hingga serangga akhirnya mati. Jamur kemudian hidup sebagai saprofit dan menyerap hara dari tubuh serangga yang sudah mati. Tubuh buah jamur kemudian muncul dari bangkai serangga inang, menghasilkan spora, dan siap disebarkan untuk menginfeksi serangga lainnya.

Tanaka dan Kaya (1993) telah mendata jamur penyebab penyakit serangga (entomopatogen) yang terdapat dalam 8 kelas, 13 ordo dan 57 genus. Banyak diantaranya yang bersifat sangat spesifik (hanya menginfeksi serangga tertentu).
 
Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin
Digunakan sebagai insektisida. Jamur ini dahulu dikenal dengan nama Botrytis bassiana. Jamur entomopatogen (penyebab penyakit serangga) ini menginvasi tubuh serangga sasaran. Spora (konidia) jamur akan menempel pada kutikula serangga, dan saat berkecambah, benang jamur (hifa) akan menembus kutikula dan berkembang didalam tubuh serangga. Untuk perkecambahan diperlukan kelembapan tinggi serta air bebas. Infeksi bisa memakan waktu 24 hingga 48 jam, tergantung pada temperatur. Serangga sasaran masih hidup 3 hingga 5 hari sesudah infeksi, sebelum akhirnya mati. Sesudah serangga sasaran mati, spora jamur akan terus diproduksi diluar tubuh serangga. Insektisida berbasis B. bassiana adalah racun kontak dan bersifat sangat spesifik pada serangga sasaran. 

Diaplikasikan dengan disemprotkan pada kanopi tanaman. Dapat diaplikasikan bersama insektisida lain, dengan tambahan ajuvant dan sebagainya. Jangan digunakan bersama fungisida, dan tunggu hingga 48 jam sebelum menggunakan fungisida. Tidak kompatibel dengan oksidator yang kuat, asam, basa dan jangan dicampur dengan air yang mengandung klorin.
Tidak menyebabkan infeksi pada tikus sesudah perlakuan 21 hari. Oral LD50 pada tikus >18 X 108 cfu/kg, dermal (tikus) >2000 mg/kg. Menyebabkan iritasi pada mata, kulit dan sistim pernafasan.
 
Produk berbasis Beauveria bassiana yang telah diproduksi secara komersial terdiri atas isolat-isolat berikut:
  • Beauveria bassiana isolat BB 147
    Isolat ini digunakan untuk mengendalikan penggerek tongkol jagung (Ostrinia nubilalis, european corn borer dan Ostrinia furnacalis, asian corn borer), pada tanaman jagung.
    padi.
image
 
Gambar 01:: Wereng coklat dan walangsangit terinfeksi jamur Beauveria bassania (dari Shepard, dkk; IRRI)
  • B. bassiana isolat stanes
    Isolat ini digunakan untuk mengendalikan penggerek buah kopi, lundi (uret), penngerek buah kapas, ulat potong (cutworm), wereng batang coklat dan ulat kubis, pada tanaman teh, kopi, kapas, tomat, okra, terung dan
  • B. bassiana isolat GHA
    Isolat GHA terutama efektif untuk mengendalikan kutu kebul (whitefly), thrips, aphids, serta kutu dompolan, pada tanaman sayuran dan tanaman hias..
  • B. bassiana isolat ATCC 74040
    B. bassiana isolat ATCC 74040 efektif untuk mengendalikan Coleoptera dan Hemiptera pada lapangan rumput dan tanaman hias.

Beauveria brongniartii (Saccardo) Petch
 
Jamur yang dimanfaatkan sebagai insektisida ini pernah dikenal dengan nama Beauveria tenella. Dewasa ini ada 3 isolat yang dikomersialkan, yakni isolat Bb96 (isolat Swiss) dan IMBST 95.031 serta 95.041 (isolat Austria). Seperti jamur entomopatogen lainnya, jamur ini juga menyerang tubuh serangga sasaran. Spora (konidia) jamur akan menempel pada kutikula serangga, dan saat berkecambah, benang jamur (hifa) akan menembus kutikula dan berkembang didalam tubuh serangga. Untuk perkecambahan diperlukan kelembapan tinggi serta air bebas. Infeksi bisa memakan waktu 24 hingga 48 jam, tergantung pada temperatur. Serangga sasaran masih hidup 3 hingga 5 hari sebelum akhirnya mati. Sesudah serangga sasaran mati, spora jamur akan terus diproduksi diluar tubuh serangga. Insektisida berbasis B. bassiana adalah racun kontak dan bersifat sangat spesifik pada serangga sasaran.
Dapat diaplikasikan bersama pestisida kimia lainnya, kecuali fungisida.
Diklasifikasikan sebagai non-toksik, dengan LD50 oral (tikus) >5000 mg/kg, dermal (tikus) >2000 mg/kg, menimbulkan iritasi ringan pada kulit kelinci.
  • B. brongniartii isolat Bb96
    Isolat ini diisolasi dari semacam uret (lundi) Hoplochelus marginalis yang terdapat di Madagaskar,oleh CIRAT/IRAT, Prancis. Prises untuk formulasinya sekarang dimiliki oleh Natural Plant Protection (NPP). Digunakan untuk mengendalikan uret Hoplochelus marginalis pada tanaman tebu. Diaplikasikan di tanah saat tanam pada alur-alur tanaman, atau pada pangkal ratun tebu.
  • B. brongniartii isolat IMBST 95.031 dan 95.041
    Isolat ini diisolati dari padang rumput yang diserang oleh larva Melolontha melolontha oleh Istitut Mikrobiologi Universitas Leopold-Franzens di Austria. Digunakan untuk mengendalikan larva Melolontha melolontha diaplikasikan pada benih yang akan ditanam.
 
Hirsutella thompsonii Fisher
Akarisida biologis komersial berisi jamur Hirsutella thompsonii isolat MF(Ag)S (ITCC 4962; IMI 385470), digunakan untuk mengendalikan tungau dari famili Eriophyidae, terutama tungau kelapa Aceria guerreronis. Pertama kali diisolasi dari tungau Eriophyidae di Tamil Nadu, India.
Jamur ini bekerja dengan mendegradasi kutikula tungau. Spora jamur yang menempel pada kulit tungau, bila kondisi menunjang, akan berkecambah dan germ tube dengan kekuatan fisik dan enzym akan memasuki kutikula tungau dan selanjutnya hifa jamur berkembang dalam tubuh tungau, memproduksi spora pada kutikula tungau baik yang masih hidup atau yang sudah mati, dan melanjutkan siklus hidup selanjutnya.
Sediaan komersial yang mengandung spora H. tompsonii diaplikasikan dengan cara disemprotkan bila kondisi cuaca kering. Jangan dicampur dengan fungisida, terutama ditiokarbamat. Tidak kompatibel dengan oksidator yang kuta, asam, basa, dan jangan dicampur dengan ir yang mengandung klorin.
Hirsutella thompsonii tidak menyebabkan iritasi kulit dan mata, tidak ada bukti menyebabkan keracunan akut maupun kronis. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna H. thompsoni.
 
Lagenidium giganteum Couch

Lagenidium giganteum digunakan untuk mengendalikan larva nyamuk, yang meluputi genus-genus Aedes, Anopheles, Coquillettidea, Culex, dan sebagainya.
L. giganteum adalah parasit dari larva nyamuk. Zoospora jamur, bila diaplikasikan dalam air, akan mencari larva nyamuk dan menempel pada kutikula. Selanjutnya zoospora akan berkecambah dan menembus kutikula larva, dan selanjutnya berkembang dalam tubuh jentik-jentik nyamuk dan khirnya menyebabkan kematian.

Lecanicillium lecanii (Zimmerman) Gams & Zare
Dahulu dikenal dengan nama lama Cephalosporium lecanii atau Verticillium lecanii. Jamur L. lecanii adalah entomopatogen yang bertindak dengan mendegradasi kutikula serangga sasaran. Spora yang menempel pada kutikula serangga, saat berkecambah akan masuk kedalam tubuh serangga dengan menembus kutikula, baik dengan kekuatan fisik maupun bantuan enzym. Hifa jamur kemudian akan berkembang dalam tubuh serangga yang menyebabkan serangga sakit dan akhirnya mati.
Diaplikasikan pada kanopi daun dengan semprotan volume tinggi, sebagiknya saat kelembapan tinggi. Jamur ini tidak menyebabkan keracunan pada tanaman (non-fitotoksik) dan juga non-fotipatogenik (tidak menyebabkan penyakit pada tanaman). Peka terhadap sejumlah fungisida, terutama ditiokarbamat. Tidak boleh dicampur dengan oksidator yang kuat, asam, basa dan air yang mengandung klorin.
L. lecanii tidak menyebabkan iritasi kulit dan mata. Tidak ada bukti bahwa L. lecanii menyebabkan keracunan akut atau kronis, dan tidak menyebabkan infeksi pada mamalia. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna H. thompsoni.
  • L. lecanii isolat aphids
    Isolat aphids (aphids isolate) ditemukan oleh R.A. Hall, dan diisolasi dari semacam aphids, Macrosiphoniella sanborni, digunakan untuk mengendalikan aphids, kutu kebul (whitefly), thrips dan kutu sisik pada sayuran, tanaman hias dan tanaman lainnya.
  • L. lecanii isolat kutu kebul (whitefly)
    L. lecanii Isolat kutu kebul (whitefly isolate) juga ditemukan oleh R.A. Hall, dan diisolasi dari kutu kebul rumah kaca, Trialeurodes vaporariorum. L. Lecanii whitefly isolate dimanfaatkan untuk mengendalikan terutama kutu kebul, dengan efek samping pada thrips.

Metarhizium anisopliae Sorok
Insektisida biologi Metarhizium anisopliae dahulu dikenal dengan nama Penicillium anisopliae dan Entomophthora anisopliae. Jamur yang umum terdapat pada serangga yang mati, dan produk komersial diisolasi dai wereng batang padi (Nilaparvata lugens). Ada produk yang khusus untuk mengendalikan rayap, ada pula yang diregistrasi untuk wereng padi (Nilaparvata lugens) dan hama lain dari ordo Coleoptera dan Lepidoptera, ada pula yang khusus untuk mengendalikan kecoa.

M. anisopliae merupakan entomopatogen yang efektif, menyerang serangga sasaran dengan cara menembus kutikula serangga, dan hifa jamur kemudian berkembang dalam tubuh serangga, yang menyebabkan sakit dan kematian. Setelah diaplikasikan, jamur akan menginvasi serangga sasaran dalam 2 hari, dan akan mati dalam 7 – 10 hari. Serangga yang mati akan tetap melekat pada tanaman, dan spora yang diproduksi oleh jamur akan menambah dan mempertahankan adanya inokulan yang cukup bagi serangga hama yang datang kemudian.
Produk untuk bidang pertanian diaplikasikan dengan cara disemprotkan. Sedangkan untuk mengendalikan rayap diaplikasikan pada lubang-lubang rayap atau jalur yang dilalui rayap. Gunakan produk berbasis M. anisopliae secara single, tidak kompatibel dengan fungisida, oksidator yang kuat, asam, basa dan air yang mengandung klorin.Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna H. thompsoni.
Beberapa varitas dan isolat M. anisopliae juga telah diisolasi dan dikembangkan, serta diguanakan untuk mengendalikan hama yang berbeda, seperti dibawah ini.
  • M. anisopliae var. acridium
    Jamur ini khusus digunakan untuk mengendalikan belalang. Produk komersial terdiri atas isolat IMI 330189 dan FI-985.
  • M. anisopliae var. anisopliae
    Varitas khusus untuk mengendalikan larva kumbang (uret, lundi) Dermolepida albohirtum pada perkebunan tebu.
    16
  • M. anisopliae isolat ICIPE 30
    Isolat jamur M. anisopliae khusus untuk mengendalikan rayap dari genus Macrotermes, Microtermes dan Odontotermes, pada pertanaman jagung, ubi kayu, jeruk, kopi, agroforestry, dan sayuran yang diserang rayap. Juga digunakan untuk melindungi bangunan, dsb. dari serangan rayap.
  • M. anisopliae isolat ICIPE 69
    Produk ini khusus untuk mengenalikan hama thrips (Megalurothrips sjostedti, Thrips tabaci dan Frankliniella occidentalis), pada tanaman sayuran dan tanaman hias.
image
Gambar 02: Hama dari Ordo Coleoptera terinfeksi jamur Metarhizium anisopliae (dari Shepard, dkk. IRRI)

Metarhizium flavoviridae var. flavoviridae Gams & Rozsypal

Metarhizium flavoviridae var. flavoviridae isolat F001, digunakan untuk mengendalikan Adoryphorus coulani pada lapangan rumput (turf).
Paecilomyces fumosoroseus (Wiize) AHS Brown & G. Smith
Paecilomyces furosomoseus merupakan insektisida dan akarisida berbasis jamur yang dimanfaatkan untuk emngendalikan berbagai jenis serangga, seprti kutu kebul (Trialeuroes vapororiorum dan Bemisia tabaci). Juga memiliki efikasi terhadap aphids, thrips dan tungau (spider mites). Isolat Apopka 97 (PFR 97) dari jamur ini telah diproduksi secara komersial, dan direkomendasikan untuk digunakan pada tanaman hias serta tanaman pangan, baik di dalam rumah kaca atau di lapangan.
image
 
Gambar 03: Wereng coklat terinfeksi jamur Metarhizium flavoviridae (dari Shepard, dkk; IRRI)


Insektisida Mikrobiologi: Bakteri

Bakteri penyebab penyakit serangga umumnya dibagi ke dalam kelompok besar, yakni bakteri yang tidak membentuk spora dn bakteri yang membentuk spora. Kebanyakan spesies bakteri entomopatogen yang diisolasi dari serangga yang sakit adalah bakteri yang tidak membentuk spora. Akan tetapi untuk produksi komersial, bakteri yang membentuk spora lebih mudah (relatif) diformulasi, karena dalam bentuk spora bakteri tidak membutuhkan makanan dan dapat disimpan lebih lama.
Agar efektif untuk mengendalikan serangga, bakteri umumnya harus dimakan dan masuk ke dalam saluran cerna serangga terleih dahulu.
Bacillus sphaericus Neide

Bakteri ini terutama digunakan sebagai insektisida biologi di bidang kesehatan masyarakat untuk mengendalikan nyamuk, terutama efektif untuk Culex spp. Bacillus sphaericus isolat 2362 dipilih untuk dikomersialkan karena isolat ini efektif untuk mengendalikan larva Culex spp. B. sphaericus bertindak sebagai racun perut, dan saat sporulasi bakteri menghasilkan kristal protein. Setelah termakan, dalam usus serangga kristal protein yang merupakan pro-toksin ini akan dirubah menjadi racun (toksin) oleh enzym protease. Toksin ini selanjutnya akan terikat pada sel-sel usus tengah (midgut) pada lokasi spesifik dimana mereka aktif sebagai racun, dan akhirnya mematikan serangga dengan menghancurkan selaput usus.
Diaplikasikan ke dalam air dimana larva nyamuk hidup. Kompatibel dengan insektisida lain, jangan diaplikasikan bersama fungisida berbasis tempaga atau algisida. Tidak kompatibel dengan oksidator yang kuat, asam, basa, dan jangan dicampur dengan air yang mengandung klorin.
Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna B. sphaericus. Oral LD50 akut (tikus) >5000 mg/kg, dermal (kelinci) >2000 mg/kg, menyebabkan iritasi mata dan iritasi kulit ringan pada kelinci.
Bacillus thuringiensis Berliner
B. thuringiensis (Bt) mungkin merupakan insektisida mikrobiologi yang paling luas dikenal. Bakteri gram positif ini dideteksi pertama kali pada tahun 1902 pada larva ulat sutera (Bombyx mori) yang mati. Di Eropa, Bt diketemukan juga diketemukan sebagai penyakit pada bubuk tepung di Thuringen (Jerman). Sejak diketemukannya, memakan waktu 50 tahun sebelum akhirnya diketahui bahwa semacam protein yang dihasilkan ketika bakteri ini mencapai fase sporulasi, bertanggungjawab atas efek insektisidanya.
Bacillus thuringiensis (Bt) merupakan patogen (penyebab penyakit) bagi berbagai jenis serangga yang sangat spesifik. Bt merupakan insektisida racun perut. Saat sporulasi, bakteri menghasilkan kristal protein yang mengandung beberapa senyawa insektisida yang bekerja merusak sistem percernaan serangga. Setelah termakan kristal protein ini akan dilarutkan oleh enzym protease, kemudian toksin yang dihasilkan akan terikat pada sel usus tengah (midgut) serangga pada reseptor sipesifik. Racun ini menghancurkan selaput usus serangga, serangga akan berhenti makan dan mati dalam 2 – 3 hari (sumber lain 1 – 4 hari).
Dari B. thuringiensis didapat 4 agen toksik, yakni alpha-eksotoksin (enzym fosfolipsa), beta-eksotoksin (suatu nukleotida), gamma-eksotoksin (fosfolipasa) dan delta-endotoksin (parasporal inclusion protein). Setiap toksin terikat pada reseptor spesifik yang berbeda, dan ini menjelaskan adanya selektivitas yang berbeda dari beberapa isolat atau subspesies Bt.
Studi yang dilakukan secara luas pada pestisida berbasis Bacillus thuringiensis menunjukkan bahwa B. thuringiensis dan isolat-isolatnya diklasifikasikan sebagai non-toksik. LD50 oral tidak ada infeksi atau keracunan yang diamati pada tikus yang diperlakukan dengan 4.7 X 1011 spora per kg produk. Dermal LD50 (tikus) >5000 mg.kg bb. Beberapa produk dapat mengakibatkan iritasi mata sementara (mungkin karena bahan pembawanya). Klasifikasi EPA (formulasi) kelas III. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna B. thuringiensis.
Dikenal adanya beberapa varitas atau subspecies Bt, masing-masing dengan berbagai strain, isolat dan sebagainya. Beberapa diantaranya yang telah diproduksi secara komersial adalah sebagai berikut.
image
Gambar 04: Kristal protein Bacillus thuringiensis morrisoni strain T08025 (dari Wilkipedia)
  • B. thuringensis subsp. kurstaki
    Digunakan untuk mengendalikan berbagai larva Lepidoptera, terutama ulat daun kubis (diamond-back moth: Plutella xylostella) pada kubis, dan lepidoptera lainnya pada sayuran dan kehutanan.
  • B. thuringiensis subsp. morrisoni isolat Sa-10 dan NovoBtt
    Dahulu dikenal sebagai Bacillus thuringiensis subsp. tenebrionis atau Bacillus thuringiensis subsp. san diego. Subspesies ini efektif untuk mengendalikan Coleoptera, baik larva maupun serangga dewasa, terutama kumbang kolorado (Leptinotarsa decemlineata) pada tanaman kentang dan Solanaceae lainnya.
  • B. thuringiensis subsp. aizawai
    Beberapa isolat dan konjugat Bacillus thuringiensis subsp. aizawai digunakan untuk mengendalikan larva Lepidoptera, termasuk Spodoptera spp., juga yang sudah resisten terhadap subsp. kurstaki.
  • B. thuringiensis subsp. japonensis
    Bacillus thuringiensis subsp. japonensis efektif intuk mengendalikan kumbang tanah pada lapangan rumput dan tanaman hias.
  • B. thuringiensis subsp. israelensis
    Bt. subsp israelensis hanya efektif untuk mengendalikan Diptera, seperti lalat dan nyamuk, di saerah perairan (saluran buangan, dsb.).
 
Paenibacillus popilliae Newman

Sebelumnya dikenal dengan nama Bacillus popilliae diketemukan oleh pegawai Deptan Amerika. Bakteri ini diisolasi dari Popillia japonica, dan digunakan untuk mengendalikan kumbang ini.
 
Serratia entomophila Grimont

Bakteri yang dimanfaatkan untuk mengendalikan semacam lundi (uret) dari kumbang Costelytra zealandica) pada padang rumput (turf) di New Zealand.

 
Insektisida Mikrobiologi: Virus

Berbagai virus secara alami diketahui merupakan patogen (penyebab penyakit) yang dapat menyebabkan kematian serangga. Virus patogen ini umumnya bersifat sangat spesifik, hanya mengendalikan satu jenis serangga hama saja. Tentu selalu ada kekecualian, misalnya Anagrapha falfifera nucleopolyhedrovirus (AfNPV) mampu mengendalikan lebih dari 30 spesies larva Lepidoptera yang berbeda.

Insektisida berbasis virus umumnya merupakan larvisida (hanya membunuh larva serangga) racun lambung. Virus harus dimakan terlebih dahulu oleh serangga hama, dan didalam sistim pencernaan serangga virus mulai berkembang dan menyebabkan penyakit serta membunuh serangga hama. Kematian karena virus patogen ini umumnya cukup lama, antara beberapa hari hingga dua minggu sesudah aplikasi. Efikasi insektisida virus juga dipengaruhi oleh kondisi alam, seperti suhu udara dan perkembangan larva serangga.
 
Insektisida berbasis virus diberi nama menurut serangga hama yang diserangnya. Misalnya, Spodoptera exigua nocleopolyhedrovirus (SeNPV) adalah virus yang menyerang, dan karenanya hanya digunakan untuk mengendalikan Spodoptera exigua. Adoxophyes orana granulosis virus (AoGV) adalah virus yang merupakan penyakit pada, dan karenanya hanya digunakan untuk mengendalikan Adoxophyes orana.

Sejumlah virus yang merupakan penyakit bagi serangga hama telah berhasil diisolasi, dikembangkan, dan diproduksi secara komersial, terutama dari kelompok nucleopolyhedrovirus dan granulosis virus (keduanya adalah Baculovirus). Beberapa diantaranya dicantumkan berikut ini.
Granulosis Virus

Insektisida berbahan aktif granulosis virus bersifat sebagai racun lambung. Serangga harus memakan virus agar virus efektif membunuhnya. Sesudah termakan, dinding pembungkus protein virus akan terlarutkan dalam usus serangga yang bersifat alkalis, dan partikel virus akan dilepaskan kedalam usus serangga. Virus kemudian akan menginvasi inti sel (nukleus) dan berkembang biak di dalamnya, menyebabkan serangga yang terpapar sakit, dan berakhir dengan kematian. Efek virus terhadap serangga hama amat lambat jika dibandingkan dengan kebanyakan insektisida kimiawi. Serangga hama akan mati 6 hingga 12 hari sesudah terpapar (makan) virus, pada kondisi normal. Granulosis virus lebih efektif mengendalikan larva yang masih kecil daripada larva dari stadia lanjutn. Virus yang dilepaskan dari tubuh serangga yang mati masih tetap mampu mengeinfeksi serangga hama.

Adoxophyes orana granulosis virus (AoGV)

Adoxophyaes orana granulosis virus (AoGV) adalah virus yang terdapat luas secara alami sebagai penyakit (patogen) pada fruit tortrix moth (Adoxophyes orana). Produk insektisida biologi komersial diisolasi dari A. orana yang terinfeksi. AoGV digunakan hanya untuk mengendalikan fruit tortrix moth (Adoxopyes orana) pada beberapa tanaman buah.
 
AoGV diaplikasikan dengan cara disemprotkan. Karena virus ini sangat efektif untuk mengendalikan larva instar pertama, maka pengamatan saat penerbangan dan masa bertelurnya serangga sangat penting. Penyemprotan sebaiknya dilakukan saat serangga meletakkan telurnya. Aplikasi dilakukan secara merata pada permukaan daun, dan gunakan air yang pH-nya antara 6-8. Jangan gunakan air yang mengandung klorin untuk mencampurnya. Dapat digunakan bersama pestisida lain yang tidak mengandung tembaga, serta tidak mempunyai efek repellent terhadap Adoxophyes orana.

Tidak ada bukti bahwa AoGv berpengaruh terhadap organisme lain, kecuali Adoxopyeas orana. AoGv tidak stabil pada pH yang ekstrim dan terhadap cahaya ultra violet.
Tidak ada bukti bahwa virus ini menyebabkan keracunan akut, iritasi mata maupun kulit. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna AoGV.
 
Cydia pomonella granulosis virus (CpGV)
Virus ini merupakan penyakit alami dari codling moth (Cydia pomonella), semacam hama yang umum menyerang buah apel dan pir. Larva C. pomonella yang diinfeksi oleh virus ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1964 di Meksiko.
CpGV digunakan sebagai insektisida untuk mengendalikan hama codling moth (Cydia pomonella) pada buah apel, pir dan walnut. Diaplikasikan dengan cara disemprotkan. Pengamatan sangat diperlukan agar CpGV dapat diaplikasikan pada saat yang tepat sehingga efektif.

Dapat diaplikasikan dengan produk perlindungan tanaman lainnya yang bukan repellent bagi C.pomonella. Gunakan air yang pH-nya antara 6 – 8, dan jangan menggunakan air yang mengandung klorin untuk mencampurnya. Tidak kompatibel dengan oksidator yang kuat, asam dan basa.
 
Tidak ada bukti bahwa CpGV menyebabkan keracunan baik akut maupun kronis, dan tidak pula menyebabkan iritasi mata pada mamalia. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna CpGV.

Plodia interpunctella granulosis virus (IMMGV)

Virus ini merupakan penyakit Plodia interpunctella (Indian Meal Moth, karenanya disebut Indian Meal Moth Granulosis Virus, IMMGV), sejenis hama gudang yang merusak buah-buahan kering dan kacang-kacangan. Virus ini dibiakkan dan diproduksi secara komersial sebagai insektisida biologi untuk mengendalikan hama ini.

Nucleopolyhedro Virus

Seperti insektisida virus lainnya, nucleopolyhedrovirus adalah racun perut. Setelah diaplikasikan dan termakan oleh larva serangga hama sasaran pelindung matriks protein virus akan terlarutkan di dalam usus serangga, dan partikel virus akan memasuki sistim sirkulasi serangga. Partikel virus akan menyerang semua jenis sel dalam tubuh larva, berkembang biak sehingga larva sakit dan akhirnya mati. Bila serangga inang mati, virus akan tetap hidup 7 hingga 14 hari dipermukaan daun.
Anagrapha falcifera nicleopolyhedrovirus (AfNPV)
AfNPV adalah virus yang terdapat secara alami, menyebabkan penyakit serta kematian pada ulat alfalfa (Anagrapha falcifera). Tidak sebagaimana insektisida virus lainnya yang umumnya sangat spesifik (hingga spesies), AfNVP mampu menginfeksi lebih dari 30 spesies Lepidoptera, sehingga dapat menutupi terlalu sempitnya spektrum pengendalian kebanyakan insektisida virus pada situasi perlindungan tanaman umumnya. AfNVP digunakan untuk mengendalikan berbagai larva Lepidoptera, terutama genus Heliothis dan Helicoverta, seperti Helicoverpa zea dan Heliothis virescens, pada tanaman-tanaman jagung, kapas, tomat dan sayuran lainnya, tanaman buah dan tanaman hias.

Diaplikasikan dengan cara disemprotkan dengan volume tinggi pada permukaan daun hingga merata. Monitoring kapan serangga bertelur sangat penting, karena AfNVP lebih efektif mengendalikan larva yang baru menetas dari pada larva yang sudah lanjut. Dapat dicampur dengan insektisida lain yang bukan repellent dari serangga sasaran. Jangan dicampur dengan oksidator yang kuat, asam, basa atau air yang mengandung klorin.

Virus ini spesifik menyerang invertebrata, tidak ada catatan bahwa virus ini menginfeksi vertebrata. Virus tidak menginfeksi dan tidak berkembang biak pada tubuh mamalia dan tidak aktif pada temperatur >32oC. Tidak ada bukti bahwa virus ini menyebabkan keracunan akut, iritasi mata maupun kulit. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna AfNPV.

Anticarsia gemmatalis Nucleopolyhedro virus (AgNPV)

Virus ini diisolasi dari ulat (Anticarsia gemmatalis) yang menyerang semacam kacang (velvet bean) yang terdapat pada tanaman kedelai di Amerika. Belakangan, isolat baru diisolasi dari ulat penggerek tebu Diatraea saccharalis, yang lebih mudah dipelihara dibandingkan Anticarsia.

AgNVP digunakan sebagai insektisida biologi untuk mengendalikan ulat Anticarsia gemmatalis dan penggerek batang tebu (Diatraea saccharalis).

Autographa californica nucleopolyhedrovirus (AcNVP)

Virus ini diisolasi dari Autographa californica yang terinfeksi. AcNVP sebagai insektisida biologi memiliki spektrum pengendaliannya cukup luas (lebih dari 30 spesies Lepidoptera) untuk mengendalikan larva Lepidoptera, pada jagung, sayuran, tanaman buah-buahan, dan tanaman hias.
 
Diaplikasikan dengan semprotan volume tinggi hingga merata pada permukaan daun. Dapat dicampur dengan insektisida lain yang bukan repellent dari serangga sasaran. Jangan dicampur dengan oksidator yang kuat, asam, basa atau air yang mengandung klorin.
 
Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna AcNVP.

Helicoverpa armigera nucleopolyhedrovirus (HaNPV)
Sering disebut pula sebagai Heliothis armigera nucleopolyhedrovirus (HaNPV). Virus ini terdapat luas di alam, merupakan penyakit alami bagi Helicoverpa armigera. Digunakan sebagai insektisida terutama untuk mengendalikan H. armigera, pada berbagai jenis tanaman seprti kapas, sayuran (kubis, tomat, kapri) dan tanaman hias (mawar). HaNPV juga mempunyai efek terhadap larva Lepidoptera dari famili Noctuidae lainnya. Diaplikasikan dengan cara disemprotkan.
Dapat digunakan bersama insektisida lainnya, yang tidak bersifat mengusir (repellent) Helicoverpa. Jangan digunakan bersama senyawa yang bersifat oksidator yang kuat, asam, basa dan jangan dicampur air yang mengandung klorin.
 
Virus ini spesifik menyerang invertebrata, tidak ada catatan bahwa virus ini menginfeksi vertebrata. Virus tidak menginfeksi dan tidak berkembang biak pada tubuh mamalia dan tidak aktif pada temperatur >32oC. Tidak ada bukti bahwa virus ini menyebabkan keracunan akut, iritasi mata maupun kulit. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna HaNPV.

Helicoverpa zea nucleopolyhedrovirus (HzNVP)
HzNVP digunakan sebagai insektisida mikrobiologi untuk mengendalikan larva serangga dari genus Helicoverpa dan Heliothis, seperti Helicoverpa zea dan Heliothis virescens, pada sayuran, tanaman hias, tomat dan kapas. Diaplikasikan dengan cara disemprotkan.
Virus ini spesifik menyerang invertebrata, tidak ada catatan bahwa virus ini menginfeksi vertebrata. Virus tidak menginfeksi dan tidak berkembang biak pada tubuh mamalia dan tidak aktif pada temperatur >32oC. Tidak ada bukti bahwa virus ini menyebabkan keracunan akut, iritasi mata maupun kulit. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna HzNPV (Copping, 2001).
 
Lymantria dispar nucleopolyhedrovirus (LdNPV)

Pertama kali diisolasi dari larva gypsy moth (Limantria dispar) yang terinfeksi oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), dan diregistrasi oleh US-EPA (United States Environmental Protection Agency) tahun 1978. Digunakan sebagai insektisida biologi terutama di bidang kehutanan dan juga tanaman hias untuk mengendalikan larva gypsy moth (Limantria dispar). Diaplikasikan dengan cara disemprotkan.
Jangan dicampur dengan insektisida lain, juga jangan dicampur dengan oksidator yang kuat, asam, basa dan air yang mengandung klorin. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna LdNPV. Disimpulkan sebagai non-toksik terhadap mamalia.

Mamestra brassicae nucleopolyhedrovirus (MbNPV)

Mamestra brassicae nucleopolyhedrovirus (MbNPV) merupakan penyakit alami dari ngengat kubis (Mamestra brassicae). Diiolasi pertama kali dari larva yang terinfeksi di Prancis oleh peneliti dari INRA, dan dikembangkan sebagai insektisida biologi oleh NPP (Natural Plant Protection). MbNPV digunakan untuk mengendalikan Mamestra brassicae, Helicoverpa armigera, Phthorimaea operculella dan Plutella xylostella pada tanaman sayuran, kentang, Cruciferae dan tanaman hias. Diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada kanopi daun.

Kompatibel dengan produk perlindungan tanaman lainnya, asalkan tidak bersifat repellent bagi serangga sasaran. Jangan diaplikasikan bersama fungisida berbasis tembaga, oksidator yang kuat, asam, basa dan air yang mengandung klorin. Gunakan air yang pH-nya netral.
Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna MbNPV. Tidak ada buksi virus ini menyebabkan keracunan akut maupun krinis, juga tidak menyebabkan iritasi mata dan kulit pada mamalia (Copping, 2001).

Mamestra configurata nucleopolyhedrovirus (McNPV)

Insektisida mikrobiologi, digunakan untuk mengendalikan Mamestra configurata (berta armyworm)
Neodiprion sertifer nucleopolyhedrovirus (NsNPV)

Insektisida mikrobiologi, digunakan untuk mengendalikan Neodiprion spp. di bidang kehutanan.

Orgya pseudotsugata nucleopolyhedro virus (OpNV)

Insektisida biologi, digunakan untuk mengendalikan hama Orgya pseudotsugata.

Spodoptera exigua nucleopolyhedro virus (SeNPV)

Virus ini merupakan penyakit bagi Spodoptera exigua yang luas terdapat di alam (juga di Indonesia). Diproduksi dari larva Spodoptera exigua yang terinfeksi virus pada kondisi yang terkendali. Virus kemudian dipisahkan dari bangkai larva dengan cara sentrifugal. Sebagai insektisida biologi, SeNPV khusus digunakan untuk mengendalikan latva Spodoptera exigua (ulat bawang) pada berbagai tanaman, seperti sayuran, kapas, tanaman hias, anggur dsb.

SeNPV kompatibel dengan kebanyakan pestisida lainnya yang bukan repellent bagi Spodoptera exigua. Jangan digunakan bersama fungisida berbasis tembaga, oksidator yang kuat, asam, basa dan air yang mengandung klorin.

Tidak ada kejadian bahwa SeNPV menyebabkan keracunan, infeksi atau iritasi pada mamalia. Tidak ada respon alergi atau gangguan kesehatan lain yang disebabkan oleh penggunaan SeNPV, baik pada petani, pekerja atau pekerja pabrik.
image

Gambar 05: Gejala khas ulat (Spodoptera spp.) yang mati karena virus SeNPV (dari Shepard, dkk.; IRRI)

Spodoptera litura nucleopolyhedro virus (SlNPV)

Virus ini merupakan penyakit bagi Spodoptera litura yang luas terdapat di alam (juga di Indonesia). Diproduksi sebagai insektisida biologi dari larva Spodoptera litura yang terinfeksi virus pada kondisi yang terkendali. Virus kemudian dipisahkan dari bangkai larva dengan cara sentrifugal. SlNPV khusus digunakan untuk mengendalikan latva Spodoptera litura (ulat grayak) pada berbagai tanaman, seperti sayuran, kapas, tanaman hias, anggur dsb.

SlNPV kompatibel dengan kebanyakan pestisida lainnya yang bukan repellent bagi Spodoptera litura. Jangan digunakan bersama fungisida berbasis tembaga, oksidator yang kuat, asam, basa dan air yang mengandung klorin.

Tidak ada kejadian bahwa SlNPV menyebabkan keracunan, infeksi atau iritasi pada mamalia. Tidak ada respon alergi atau gangguan kesehatan lain yang disebabkan oleh penggunaan SlNPV, baik pada petani, pekerja atau pekerja pabrik.

Insektisida Mikrobiologi: Protozoa

Beberapa spesies protozoa (dari kelompok Mikrosporidium) ternyata juga menyebabkan penyakit pada serangga, yang bisa mengakibatkan kematian serangga sasaran. Sejauh ini 2 spesies telah diproduksi secara komersial

Nosema locustae Canning
Nosema locustae diproduksi sebagai insektisida biologi dari rearing in vivo pada tubuh belalang, dan digunakan terutama untuk mengendalikan belalang. Paling efektif untuk mengendalikan larva belalang instar 2 dan 3 yang belum bersayap.
Protozoa ini harus dimakan terlebih dahulu supaya bekerja. Dalam usus belalang spora Nosema akan berkecambah dan menginfeksi tubuh serangga sehingga menyebabkan kematin.

Respons belalang terhadap infeksi Nosema bermacam-macam. Beberapa diantaranya akan mati segera setelah infeksi, dan lainnya akan menjadi lemah dan lunak (sluggish). Belalang yang lemah ini sering dimakan oleh kawannya yang masih sehat (kanibalisme), sehingga belalang yang memakan tersebut juga akan terinfeksi Nosema. Infeksi oleh Nosema dapat diturunkan ke generasi belalang selanjunya lewat telur. Sekali mantap pada suatu populasi belalang, Nosema biasanya dapat bertahan sepanjang tahun.
 
Nosema merupakan penyakit Protozoa (Microsporidium) yang dapat menginfeksi sekitar 60 spesies belalang yang berbeda. Nosema locustae dianggap sebagai tidak beracun terhadap mamalia. Tidak menimbulkan iritasi, tidak terakumulasi dan tidak berkembang biak pada kelinci. LD50 oral (tikus) >5000 mg/kg. Toksisitas formulasi EPA kelas IV.
Vairimorpha necatrix (Kramer) Piley

Pertama kali dilaporkan sebagai penyakit pada ulat Pseudaletia unipuncta (semacam ulat grayak) di Hawaii. Insektisida biologi digunakan untuk mengendalikan serangga hama dari ordo Lepidoptera, seperti Helicoverpa, Ostrinia, Spodoptera dan Tricliplusia, pada berbagai tanaman, termasuk jagung, kedelai, kapas, dan tanaman sayuran.


Insektisida Mikrobiologi: Nematoda

Beberapa spesies nematoda, terutama dari Genus-genus Heterorhabditis (Heterorhabditidae) dan Steinernema (Steinernematidae) diketahui merupakan parasit bagi sejumlah serangga hama. Nematoda ini bersimbiose dengan bakteri tertentu (Heterorhabditis dengan bakteri Photorhandus, dan Steinernema dengan bakteri Xenorhabdus spp), yang tidak menyebabkan kerugian apapun bagi nematoda, tetapi merupakan patogen (penyebab penyakit) bagi serangga sasaran.
Apabila nematoda memasuki tubuh serangga hama sasaran (melalui salah satu lobang alami seperti mulut, anus, dsb. Atau lewat kulit), di dalam tubuh serangga keluarlah bakteri yang berada dalam tubuh nematoda tersebut, dan racun (toksin) yang dihasilkan oleh bakteri tersebut akan membunuh serangga dalam beberapa jam (hingga 48 jam). Sediaan yang diproduksi secara komersial hanya berisi larva nematoda stadia 3, karena hanya larva stadia inilah yang dapat hidup di luar tubuh serangga, sebab mereka tidak perlu makan. Nanti, sesudah serangga sasaran mati, bakteri yang bersimbiose dengan nematoda akan menghancurkan bangkai serangga menjadi materi yang dapat dimakan oleh larva stadia 4, yang akan berkembang dalam sisa-sisa bangkai serangga. Larva stadia 4 ini akan tumbuh menjadi nematoda hermafrodit yang dapat bertelur masing-masing hingga 1500 butir. Telur ini akan menetas menjadi nematoda jantan dan betina, yang selanjutnya akan berbiak secara seksual. Bila makanan tersedia, sesudah kawin nematoda jantan mati, dan yang betina akan bertelur dalam bangkai serangga. Tetapi bila makanan tidak tersedia, larva stadia 1 dan 2 akan berkembang dalam bangkai serangga, dan ketika mencapai stadia 3 mereka akan keluar dari bangkai serangga untuk mencari inang (serangga) baru.

Nematoda Heterorhabditis dan Steinernema merupakan parasit serangga yang sangat agresif. Larva instar 3 dapat bergerak beberapa puluh cm untuk mencari inang baru (Copping, 2001).

Telah diketahui ada 10 spesies Steinernema dan 3 spesies Heterorhabditis dapat dimanfaatkan sebagai insektisida. Kedua genus ini mempunyai beberapa kelebihan sehingga banyak dikembangkan sebagai insektisida biologi, yakni (Habazar & Yaherwandi, 2006).
  1. Mempunyai kisaran inang yang cukup luas
  2. Mampu membunuh inang dalam waktu 48 jam
  3. Dapat dibiakkan dalam media buatan
  4. Tidak ada inang yang resisten terhadap nematoda ini
  5. Aman terhadap lingkungan.

Beberapa spesies nematoda yang telah diproduksi secara komersial adalah sebagai berikut:

Heterorhabditis bacteriophora Poinar

Insektisida mikrobiologi ini dahulu diketahui sebagai Heterorhabditis heliothidis, mula-mula diketemukan di Eropa dan Amerika Utara, tetapi sekarang tersebar luas sebagai nematoda penghuni tanah. H. bacteriophora efektif untuk mengendalikan berbagai serangga tanah seperti Popillia japonica, Phyllopertha horticola, Hoplia philanthus, Otiorhynchus sulcatus, pada berbagai tanaman pertanian, tanaman hias dan lapangan rumput. Heterorhabditis bacteriophora bersimbiose dengan bakteri Photorhabdus luminescens.
 
Diaplikasikan sebagai kocoran (drenching) pada tanah dimana serangga sasaran berada. Diperlukan suhu tanah tidak kurang dari 12oC dan suhu udara antara 12 – 30oC hingga 2 minggu sesudah aplikasi. Dapat juga disemprotkan pada kanopi daun dengan volume tinggi, tetapi jangan sampai run-off.
Dapat dicampur dengan insektisida, tetapi jangan dicampur dengan fungisida benzimidazole, oksidator yang kuat, asam dan basa. Tidak ada laporan mengenai reaksi alergi atau reaksi negatif lainnya pada orang-orang yang terlibat dalam riset, produksi dan penggunaan H. bacteriophora. LD50 dermal (tikus) >2000 mg/kg bb.

Heterorhabditis megidis Poinar, Jackson & Kein

Insektisida biologi ini juga terdapat luas sebagai nematoda tanah. Isolat-isolat UK 211 dan HW79 telah diproduksi secara komersial untuk mengendalikan serangga tanah seperti Otiohrynchus sulcatus (vine weevil) pada sayuran dan tanaman hias. Nematoda ini bersimbiose dengan bakteri Photorhabdus temperata.
Diaplikasikan sebagai kocoran pada tanah. Lahan yang dikocor harus lembab pada saat pengocoran, namun harus dapat dikeringkan sesudah pengocoran. Suhu tanah antara 12 – 30oC pada saat, dan 2 minggu sesudah, aplikasi.

Tidak kompatibel dengan insektisida tanah, oksidator yang kuat, asam dan basa.

Tidak ada laporan mengenai reaksi alergi atau reaksi negatif lainnya pada orang-orang yang terlibat dalam riset, produksi dan penggunaan H. megidis.

Steinernema carpocapsae Weiser

Nematoda yang bersimbiose dengan bakteri Xenorhabdus nematophilus ini dahulu dikenal denagn nama Neoaplectana carpocapsae. Mula-mula dijumpai di Eropa, tetapi sekarang tersebar di seluruh dunia. Digunakan sebagai insektisida mikrobiologi untuk mengendalikan vine weevil (Otiorhynchus sulcatus), dan serangga tanah lainnya seperti Agrotis spp, anjing tanah (orong-orong, Gryllotalpa spp.), Tipula spp., ulat grayak (Spodoptera spp.), penggerek batang, dan sebagainya; pada tanaman sayuran dan tanaman hias.
 
Diaplikasikan sebagai drenching secara merata pada tanah yang diperlakukan. Tidak dapat hidup pada pupuk kandang. Perlu kelembapan tinggi dan temperatur diatas 15oC agar efektif. Tidak kompatibel dengan oksidator yang kuat, asam dan basa.
Tidak ada laporan mengenai reaksi alergi atau reaksi negatif lainnya pada orang-orang yang terlibat dalam riset, produksi dan penggunaan S. carpocapsae.

Steinernema feltiae Filipjev

Dahulu dikenal sebagai Neoaplectana bibionis, N. Feltiae, N. Leucaniae, Steinernema bibionis. Nematoda ini bersimbiose dengan bakteri Xenorhabdus bovienii. Isolat UK 76 digunakan sebagai insektisida mikrobiologi untuk mengendalikan beberapa spesies lalat (Bradysia spp., Lycoriella spp., Sciara spp.) dan beberapa serangga tanah lainnya pada sayuran dan tanaman hias, strawberry, serta budidaya jamur.

Diaplikasikan sebagai drenching secara merata pada tanah yang diperlakukan. Tidak dapat hidup pada pupuk kandang. Perlu kelembapan tinggi dan temperatur antara 10-30oC agar efektif. Tidak kompatibel dengan oksidator yang kuat, asam dan basa.

Tidak ada laporan mengenai reaksi alergi atau reaksi negatif lainnya pada orang-orang yang terlibat dalam riset, produksi dan penggunaan S. feltiae.
Steinernema glaseri (Steiner)

Produk komersial mengandung S. glaseri isolat B-326 yang diisolasi dari tanah di New Jersey, Amerika Serikat, digunakan sebagai insektisida mikrobiologi untuk mengendalikan lundi (uret) dari kumbang Scarabaeidae pada lapangan rumput (turf). Nematoda ini bersimbiose dengan bakteri Xenorhabdus poinarii.

Diaplikasikan dengan cara kocoran di tanah. Tanah harus lembab dan suhu antara 15 – 35oC (terbaik antara 25 – 35oC). Kompatibel dengan pestisida biologi dan pestisida kimia pada umumnya, tetapi tidak kompatibel dengan oksidator yang kuat, asam dan basa.

Steinernema kraussei (Steiner) Travassos
Produk insektisida mikrobiologi komersial mengandung S. kraussei isolat L-137, digunakan untuk mengendalikan larva (uret) dari vine weevil (Otiorinchus sulcatus), dan serangga tanah lainnya pada sayuran, tanaman hias dan strawberry. Nematoda ini bersimbiose dengan bakteri Xenorhabdus spp.

Diaplikasikan dengan cara kocoran di tanah. Kompatibel dengan pestisida biologi dan pestisida kimia pada umumnya, tetapi tidak kompatibel dengan oksidator yang kuat, asam dan basa. Tidak ada laporan mengenai reaksi alergi atau reaksi negatif lainnya pada orang-orang yang terlibat dalam riset, produksi dan penggunaan S. kraussei serta bakteri yang hidup bersamanya.

Steinernema riobrave Cabanillas, Pionar & Raulston

Nematoda ini hidup bersama bakteri Xenorhabdus spp., seagai insektisida biologi digunakan untuk mengendalikan berbagai serangga tanah.

Steinernema scapterisci Nguyen & Smart

Nematoda ini bersimbiose dengan bakteri Xenorhabdus spp., digunakan untuk mengendalikan orong-orang (Gryllotalpa spp.)


Daftar Pustaka
  • Anonim (2006): Pestisida untuk Pertanian dan Kehutanan. Depatemen Pertanian Republik Indonesia.
  • Anonim: Bacillus thuringiensis. Wilkipedia,
    http;//www.wilkimediafoundation. org/
  • Baehaki, Dr. Ir. SE (1993): Insektisida Pengendalian Hama Tanaman. Angkasa, Bandung.
  • Beattle, GAC; O. Nicetic, AS. Kalianpur dan Z. Hossain (2004): Managing Resistance with Horticultural Mineral Oils. Some Example from Different Crop. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Management Resistensi Pestisida dalam Penerapan Pengelolaan Hama Terpadu. UGM, Yogyakarta, 24-25 Februari 2004.
  • Copping, LG (editor, 2004): The Manual of Biocontrol Agents. BCPC
  • Extoxnet (1996): Abamectin. Extesion Toxicology Network. http://npic.orst.edu/
  • Fisher, Hans-Peter, et al (1922): New Agrochemicals Based on Microbial Metabolites: New Biopesticides. Proceeding of the ’92 Agricultural Biotechnology Symposium on Biopesticides, Korea, September 1992
  • Flint, Mary Louis dan Robert Bosch (1991): Pengendalian Hama Terpadu, Sebuah Pengantar. Edisi terjemahan Indonesia, Kanisius, Yogyakarta.
  • Habazar, Prof. Dr. Ir. Trimurti, dan Dr. Ir. Yaherwandi Msi (2006): Pengendalian Hayati Hama dan Penyakit Tumbuhan. Andalas University Press, Padang.
  • Luthy, P (1993): Tailor-Made Insect Control with Bacillus thuringiensis. Insect Control No. 20, May 1993.
  • Novizan, Ir. (2002): Membuat dan Memanfaatkan Pestisida Ramah Lingkungan. AgroMedia Pustaka, Jakarta.
  • NPTN: Bacillus thuringiensis, General Fact Sheet. National Pesticide Telecommunications Network. http://nptn.orst.edu/
  • NPTN: Pyrethrin & Pyrethroid. National Pesticide Telecommunications Network. http://nptn.orst.edu/
  • Pitterna, Thomas (1997): Macrolides as Pest Control Agents: Avermectin and Milbemycins. Insecticide Newsletter No. 3, December 1997
    40
  • Shepard, B.M.; dkk (1987): Friends of Rice Farmer. Helpful Insects, Spiders, and Pathogen. International Rice Research Institute. Los Banos, Laguna, the Philippines.
  • Singleton, Paul; dan Diana Sainsbury (19981): Dictionary of Microbiology. John Wiley & Sons.
  • Tomlin, CDS (editor, 2001): The Pesticide Manual. BCPC
  • Wood, Alan (1995-2007): Compendium of Pesticide Common Name: Insecticides. http://www.alanwood.net.

Semoga artikel yang kami sampaikan tersebut bisa memberikan informasi yang rekan-rekan butuhkan tentang insektisida mikrobiologi. Jangan lupa cerita tentang insektisida dan akarisida alami dari Panut Djojosumarto belum selesai kami postingkan, nantikan postingan terakhir dari Kerajaan Tani tentang Insektisida dan Akarisida alami yang ke III.

Salam sukses buat petani Indonesia!!

readbud - get paid to read and rate articles

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More