Pages

Padi

Temukan tips-tips penanaman padi secara modern

Jagung

Temukan tips-tips penanaman jagung secara modern

Cabe Merah

Temukan tips-tips penanaman cabe merah secara modern

Tembakau

Temukan tips-tips penanaman tembakau secara modern

Tomat

Temukan tips-tips penanaman tomat secara modern

Melon

Temukan tips-tips penanaman melon secara modern

Semangka

Temukan tips-tips penanaman semangka secara modern

Terong

Temukan tips-tips penanaman terong secara modern

Rabu, 30 November 2011

INSEKTISIDA DAN AKARISIDA ALAMI I

Salam Pertanian!! Kemarin minggu 16 Oktober 2011 adalah hari istimewa bagi Kerajaan Tani karena kami bisa mertemu dengan orang yang istimewa yaitu Bapak Panut Djojosumarto walaupun hanya lewat SMS. Beliau adalah seorang penulis terkenal di bidang pertanian terutama tentang pestisida. Siapa yang tidak kenal dengan buku belia yang berjudul Pestisida Dan Aplikasinya. Beliau ingin membagikan ilmu pada petani Indonesia atau rekan-rekan Kerajaan Tani semua.

Oleh karena itu jangan sampai ketinggalan informasi, karena beberapa hari kedepan kita akan memosting artikel dari beliau. Mudah-mudahan beliau masih mau berbaik hati kepada kita semua untuk membagikan ilmu beliau tentang pertanian khususnya tentang pestisida. Sebelumnya kami ucapkan terimakasih kepada Bapak Panut Djojosumarto karena telah mau berbaik hati membagikan wawasan kepada para petani Indonesia, semoga dengan artikel-artikel dari beliau nanti bisa menjadi pencerahan petani Indonesia.
Untuk artikel yang pertama dari beliau sebenarnya berjudul “Insektisida Dan Akarisida Yang Berasal Dari Alam”, artikel tersebut sangat panjang kalau ditulis dalam satu postingan oleh karena itu Maspary akan membagi dalam beberapa postingan.
Insektisida Dan Akarisida Yang Berasal Dari Alam

PENGERTIAN

Yang dimaksud dengan insektisida dan akarsida alami adalah semua bahan aktif insektisida dan akarisida yang diambil dari alam, bukan merupakan hasil sintesa di laboratorium. Ketika insektisida alami diproduksi secara komersial, peranan industri terbatas pada riset dan pengembangan, pemurnian bahan aktif dan formulasi, sehingga senyawa tersebut dapat digunakan secara praktis di lapangan.
Dalam artikel ini kami membagi insektisida alami kedalam beberapa kategori sebagai berikut:

  1. Insektisida nabati (insektisida botani), yakni bahan aktif insektisida yang diekstrak dari tumbuhan, seperti azadiraktin, nikotin, rotenon, dan seterusnya.
  2. Insektisida mikrobiologi (insektisida biologi), adalah mikroorganisme seperti jamur, virus, nematoda, dan sebagainya, yang umumnya menyebabkan penyakit pada serangga hama tertentu.
  3. Insektisida alami yang bukan termasuk ke dalam kategori 1, 2 dan 4. Contoh dari kategori ini adalah tanah diatomeae, bubuk karbon, dan sebagainya.
  4. Insektisida yang berasal dari fermentasi mikroorganisme, seperti antibiotika, makrolida, dan sebagainya. Alasan mengapa kelompok antibiotika dan/atau makrolida kami masukkan ke dalam kelompok insektisida alami adalah kenyataan bahwa senyawa kimia ini tidak dibuat/disintesa di laboratorium, tetapi dihasilkan secara alami dari fermentasi mikrobiologi.

INSEKTISIDA NABATI

Sejak lama diketahui bahwa beberapa ekstrak tumbuhan bersifat racun bagi serangga tertentu. Penggunaan ekstrak tumbuhan sebagai insektisida telah diketahui sejak abad 18, di antaranya daun tembakau (1763), bubuk piretrum dari bunga Chrysantemum (1840), dan akar tuba (Derris eliptica).
Daftar tumbuhan yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pestisida botani dapat dilihat dibawah ini:

Beberapa jenis tumbuhan yang telah diteliti manfaatnya sebagai Pestisida botani



No

Nama Umum

Nama Ilmiah

Bagian tanaman

Penggunaan
1
Aglaia
(i) Aglaia odorata
Kulit, batang, daun
Insektisida
2
Babandotan
Ageratum conyzoides
Daun, batang, akar
Insektisida Nematisida
3
Balakama
Ocimum basilicum
Daun, biji
Insektisida
4
Bawang
Allium spp.
Umbi
Insektisida Fungisida Nematisida
5
Bengkuang
Pacchiryzus erosus
Daun, biji
Insektisida
6
Bitung
Barringtonia sp.
Biji
Insektisida Piscisida
7
Brotowali
Tinospora sp.
Batang
Insektisida
8
Cengkih
Syzigium aromaticum
Daun, bunga
Bakterisida Fungisida Insektisida
9
Daun wangi
Malaleuca bracteata
Daun
Atraktan
10
Duku
Lansium domesticum
Kulit buah, biji
Insektisida
11
Gadung
Dioscore composite
Umbi
Rodentisida
12
Jarak
Ricinus communis
Biji, daun
Insektisida
Rodentisida Insektisida Nematisida
13
Jarak pagar
Jathropa curcas
Biji
Insektisida
14
Jeringau
Acarus calamus
Rimpang
Insektisida Fungisida
15
Kecubung
Datura sp.
Biji, daun
Insektisida
16
Kembang sungsang
Gloriosa superba
Akar
Insektisida
17
Kipahit
Tithonia sp.
Daun
Repelen
18
Kunyit
Curcuma domestica
Rimpang
Nematisida Rodentisida
19
Lada
Piper nigrum
Buah, biji
Insektisida Nematisida Fungisida
20
Legundi
Vitex trifolia
Daun
Insektisida
21
Lempuyang emprit
Zingiber Americans
Rimpang
Insektisida
22
Lempuyang gajah
Zingiber zerumbet
Rimpang
Insektisida
23
Lerak
Sapindus rarak
Buah, biji
Piscisida Insektisida
24
Mahoni
Swietenia macroplylla
Biji
Insektisida
25
Jambu mete
Anacardium occidentale
Kulit biji
Insektisida Nematisida Fungisida Bakterisida
26
Mimba
Azadirachta indica
Biji
Insektisida Nematisida
27
Nangka
Artocarpus heterophylus
Daun
Nematisida
28
Nilam
Pogostemon cablin
Daun
Insektisida Repelen
29
Patah tulang
Euphorbia turricalli
Daun
Molluskisida
30
Pepaya
Carica papaya
Akar, daun
Nematisida
31
Picung
Pangium edule
Buah
Insektisida
32
Piretrum
Chrysantemum spp.
Bunga
Insektisida
33
Saga
Abrus pecatorius
Biji
Insektisida
34
Secang
Caesalpinia sappan
Daun, bunga, biji
Insektisida
35
Selasih
Ocimum sp.
Daun
Atraktan
36
Sembung
Blumea balsamifera
Daun
Molluskisida
37
Senggugu
Clerodendron seratum
Daun
Rodentisida
38
Sereh dapur
Andropogon nardus
Daun
Insektisida Fungisida
39
Sirih
Piper bettle
Daun
Bakterisida Fungisida
40
Sirsak
Annona reticulate
Daun, biji
Insektisida
41
Srikaya
Annona squamosa
Biji
Insektisida Nematisida
42
Tefrosia
Tephrosia vogelii
Daun
Molluskisida
43
Tembakau
Nicotiana tabacum
Daun
Insektisida Fungisida Nematisida
44
Tembelekan
Lantana camara
Bunga, daun
Insektisida
45
Akar tuba
Derris elliptica
Akar
Piscisida Insektisida

Novizan (2002): Membuat dan Memanfaatkan Pestisida Ramah Lingkungan

Berikut adalah beberapa insektisida nabati yang telah dapat dimurnikan bahan aktifnya, dan diproduksi secara komersial, meskipun banyak di antaranya yang belum dipasarkan di Indonesia.

Asam sitrat (citric acid)

Asam sitrat diekstraksi dari buah jeruk, digunakan sebagai insektisida untuk mengendalikan berbagai jenis serangga, seperti semut, aphids, kumbang, ulat, wereng daun, kutu dompolan, tungau dan kutu kebul, pada tanaman buah-buahan, sayuran dan tanaman hias.

Azadiraktin (azadirachtin)

Ekstrak biji mimba (Azadirachta indica) sejak lama diketahui mempunyai efek insektisida. Azadiraktin (AZA) adalah senyawa kimia utama dari ekstraksi atas biji-biji mimba (neem). Disamping azadiraktin, ekstrak biji mimba juga mengandung senyawa limonoid lainnya, seperti nimbolid, nimbin dan salanin. Ekstrak biji mimba, atau “neememulsion” mengandung 25% (berat/berat) azadiraktin, 30-50% senyawa limonoid lainnya, 25% asam lemak dan 7% ester gliserol.
Azadiraktin bekerja sebagai antagonis ecdyson (ecdyson adalah hormon yang bertanggung-jawab atas proses pergantian kulit serangga), sehingga ecdyson tidak bekerja dengan baik dan serangga hama yang terpapar akan tergganggu proses ganti kulitnya, sehinnga mati. Oleh karena itu azadiraktin dapat diklasifikasikan sebagai penghambat pertumbuhan serangga (insect growth regulator : IGR)
Azadiraktin digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis hama dari genus-genus yang berbeda. Efektif untuk mengendalikan kutu kebul (Bemisia spp.), thrips, pengorok daun, aphids, larva Lepidoptera (ulat), kutu sisik, kumbang dan kutu dompolan, pada sayuran (tomat, kubis, kentang), kapas, teh, tembakau, kopi, dan tanaman hias.

LD50 (tikus) >5000 mg/kg, dermal (kelinci) >2000 mg/kg bb. Tidak menyebabkan iritasi pada kulit, tapi sedikit pada mata (kelinci). Klasifikasi toksisitas EPA (formulasi) kelas IV.
Azadiraktin dipasarkan di Indonesia dengan nama-nama dagang Natural 9 WSC, Nimbo 0,6 AS dan Nospoil 8 EC, dan didaftarkan (dalam hal ini Nimbo) untuk mengendalikan kutu daun Myzus persicae dan ulat grayak Spodoptera litura pada tanaman cabai (Anonim, 2006).
 
Azadiraktin-dihidro (dihydroazadirachtin)

Insektisida dihidroazadiraktin (DAZA) adalah bentuk terreduksi dari azadiraktin alami. Sifat-sifatnya mirip dengan azadiraktin, demikian halnya dengan cara kerja (mode of action) dan hama sasarannya.
LD50 (tikus) >5000 mg/kg, dermal (kelinci) >2000 mg/kg bb.

Ekstrak bawang putih 

Digunakan sebagai pengusir serangga (insect repellent) dan harus digunakan sebelum ada serangan serangga hama. Mungkin senyawa mengandung sulfur yang terdapat dalam ekstrak bawang putihlah yang bertanggung-jawab atas efek repellent-nya. Beberapa produk berisi ekstrak bawang putih telah diproduksi secara komersial. Dalam penggunaannya dicampur dengan horticultural oil atau minyak ikan, diencerkan sesuai dengan rekomendasi produsennya, dan disemprotkan dengan volume tinggi pada tanaman yang dilindungi. Waktu aplikasikan sebaiknya menjelang sore, dan diulangi setiap 10 hari.
 
Ekstrak bawang putih mungkin juga mengusir serangga penyerbuk. Karena itu jangan digunakan saat tanaman berbunga, apabila kehadiran serangga penyerbuk penting bagi produksi tanamannya. Ekstrak bawang putih praktis tidak berbahaya (dalam takaran normal). Ekstrak bawang putih juga dimanfaatkan sebagai suplemen makanan dan dalam masak-memasak.

Eugenol (4-allyl-2-methoxyphenol)

Eugenol (minyak cengkih) diekstrak dari berbagai jenis tanaman, termasuk cengkih, bersifat sebagai insektisida. Cengkih mengandung antara 14-20% minyak cengkih.
Digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis serangga hama, termasuk kutu tanaman (aphids), ulat grayak, kumbang, ulat tanah, belalang, tungau, dsb., pada tanaman sayuran dan buah-buahan.

Kapsaisin (Capsaicin)

Kapsaisin adalah senyawa kimia yang terdapat pada tanaman Solanaceae dari genus Capsicum (berbagai macam cabai), dan merupakan senyawa kimia yang bertanggung-jawab atas rasa pedas pada cabai. Senyawa ini merupakan pengusir serangga dan tungau, serta mempunyai efek sebagai insektisida. Juga dikatakan dapat mengurangi transpirasi tumbuhan.
Produk komersial dengan nama dagang Armorex mengandung campuran ekstrak cabai (kapsaisin) dengan mustard oil (allyl isothiocyanate) digunakan dengan cara dikocorkan (soil drench) sebelum tanam, dan dapat mengendalikan berbagai jenis cendawan tular tanah (termasuk Pythium, Rhizoctonia, Phytophthora, Pyrenochaeta, Sclerotium, Armillaria dan Plasmodiophora), serangga tanah seperti ulat potong (Agrotis), lundi (uret, larva kumbang), molluska, nematoda (Tylenchus, Pratylenchus, Xiphinema, dsb.), serta sejumlah gulma.

Kapsaisin dikatakan dapat mengganggu metabolisme serangga dan bekerja pada susunan syaraf sentral serangga.
 
Karanjin

Insektisida dan akarisida karanjin diekstrak dari biji tumbuhan Derris indica (Pongamia pinnata). Bentuk WP didapat dengan menggiling biji hingga menjadi tepung. Digunakan untuk mengendalikan tungau, kutu sisik, serangga pengunyah dan penusuk-pengisap, serta beberapa jenis jamur. Terutama efektif untuk mengendalikan kutu kebul (whiteefly) thrips, pengorok daun, aphids, ulat, kutu sisik dan kutu dompolan pada berbagai jenis tanaman termasuk sayuran, kapas, teh, tembakau, dan tanaman hias.

Karanjin bekerja dengan berbagai macam cara. Karanjin adalah penghalau serangga (insect repellent), antifeedant (menghilangkan nafsu makan serangga), menekan kegiatan hormon ecdyson (hormon yang mengatur pergantian kulit serangga), karenanya bertindak sebagai insect growth regulator (IGR). Dikatakan pula bahwa karanjin mampu menghambat sitokrom P450 pada serangga dan tungau yang peka. Digunakan dengan cara disemprotkan.
Tidak ada bukti adanya efek alergi dan efek negatif lainnya, baik pada produsen, formulator maupun pengguna.
 
Minyak kanola (canola oil)

Minyak kanola diekstrak dari biji kanola (iolseed rape plants, Brassica napus dan Brassica campestris). Efektif untuk mengendalikan, dengan cara mengusir (insect repellent) berbagai jenis serangga hama pada berbagai jenis tanaman, termasuk sayuran, tanaman hias, buah-buahan, jagung, bit gula, kedelai, dan sebagainya. Digunakan dengan cara disemprotkan atau dialirkan lewat saluran irigasi.

Nikotin 

Nikotin adalah senyawa bioaktif kimia utama dari tanaman tembakau (Nicotiana tabacum, N. glauca dan N. rustica) serta beberapa tumbuhan dari familia Lycopodiaceae, Crassulaceae, Leguminosae, Chenopodiaceae dan Compositae. Nikotin sejak lama digunakan sebagai insektisida. Rata-rata kandungan nikotin pada N. tabacum dan N. rustica adalah 2% hingga 6% berat kering. Dahulu nikotin diproduksi dalam bentuk ekstrak dari daun tembakau, tetapi kini dibuat dan dijual dalam bentuk nikotin teknis atau nikotin sulfat.
Nikotin adalag racun non-sistemik, terutama aktif dalam fase uapnya, tetapi juga memiliki sedikit efek sebagai racun kontak dan racun perut. Bekerja pada syaraf serangga dengan memblok reseptor (penerima) kholinergik asetilkholin. Merupakan insektisida yang sangat toksik, berspektrum sangat luas, digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis serangga hama, termasuk aphids, thrips dan kutu kebul; pada berbagai tanaman.

LD50 oral pada tikus antara 50-60 mg/kg, LD50 dermal (kelinci) 50 mg/kg. Mudah diabsorbsi oleh kulit, beracun bagi manusia bila berkontak dengan kulit. Merupakan racun inhalasi yang sangat toksik. Klasifikasi toksisitas WHO (bahan aktif) kelas Ib, dan EPA (formulasi) kelas I.
Piretrum

Bubuk piretrum, yakni tepung yang diperoleh dari bunga semacam krisan, telah digunakan sebagai insektisida di berbagai belahan bumi sejak jaman purba. Tanaman ini mungkin berasal dari Cina, yang selanjutnya menyebar ke barat lewat jalur sutera ke Persia pada abad pertengahan. Bubuk piretrum kemudian dikenal pula sebagai Persian Insect Powder. Selanjutnya tanaman ini menyebar ke pesisir laut Adriatik di Dalmatia (bagian dari Kroasia).
Piretrum diperoleh dari bunga tumbuhan semacam krisan, yakni Chrysantemum cinerariaefolium (Pyrethrum cinerariaefolium, Tanacetum cinereriaefolium). Ekstrak ini selanjutnya dimurnikan menggunakan metanol.
Ekstrak piretrum terdiri atas 3 kelompok senyawa, yang keseluruhannya terdiri atas 6 senyawa bioaktif yakni piretrin (piretrin I dan II), jasmolin (jasmolin I dan II) dan sinerin (sinerin I dan II).
Rotenon 

Rotenon merupakan senyawa kimia bersifat insektisida yang diekstrak dari tanaman akar tuba (Derris eliptica & Derris maccensis), Lonchocarpus sp., dan Tephrosia sp. Sejak lama perasan akar tuba digunakan untuk meracuni ikan.

Rotenon efektif untuk mengendalikan berbagai serangga hama, termasuk aphids, thrips, tungau, semut merah, dan sebagainya. Bila diaplikasikan ke air mampu mengendalikan larva nyamuk. Juga digunakan untuk mengendalikan ekto-parasit ternak (bidang peternakan) dan di bidang perikanan digunakan untuk mengendalikan ikan buas. Di bidang pertanian digunakan pada tanaman hias dan sayuran.

Rotenon bekerja sebagai penghambat transport elektron pada respirasi serangga sasaran (pada lokasi I). Bersifat non-sistemik, racun kontak dan racun lambung.

LD50 oral (tikus putih) 132-1500 mg/kg, mencit putih 350 mg/kg. LD50 dermal (kelinci) >5000 mg/kg bb. Kelas toksisitas WHO (bahan aktif) kelas II, EPA (formulasi) kelas I dan III. Perkiraan dosis mematikan untuk manusia antara 300-500 mg/kg. Sangat beracun bila terhisap dibandingkan dengan bila termakan. Rotenon beracun bagi ikan, dan sangat beracun bagi babi.
Ryania

Ryania diekstrak dari tumbuhan Ryania speciosa, dan digunakan sebagai insektisida untuk mengendalikan serangga Cydia pomonella, penggerek batang jagung Ostrinia nubilalis serta thrips pada jeruk. LD50 oral (tikus) 1200 mg/kg bb.
Sabadila 

Sabadila diekstrak dari biji Schoenocaulon officinale dan mengandung bahan aktif veratrin yang merupakan campuran 2 : 1 dari sevadin, veratridin dan komponen minor lainnya. Sabadila merupakan insektisida kontak dan selektif untuk untuk mengendalikan thrips pada jeruk dan advokat.

Sitronela

Sitronela diakstrak dari tanaman sereh wangi, dan telah digunakan sebagai pengusir (insect repellent) nyamuk, dsb., sejak 1901. Kecuyali mengandung sitronela, ektrak tanaman ini juga mengandung senyawa-senyawa minor lainnya, seperti alpha-sitronela, sitronelol dan alpha-sitronelol.
Daftar Pustaka

  • Anonim (2006): Pestisida untuk Pertanian dan Kehutanan. Depatemen Pertanian Republik Indonesia.
  • Anonim: Bacillus thuringiensis. Wilkipedia http;//www.wilkimediafoundation. org/
  • Baehaki, Dr. Ir. SE (1993): Insektisida Pengendalian Hama Tanaman. Angkasa, Bandung.
  • Beattle, GAC; O. Nicetic, AS. Kalianpur dan Z. Hossain (2004): Managing Resistance with Horticultural Mineral Oils. Some Example from Different Crop. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Management Resistensi Pestisida dalam Penerapan Pengelolaan Hama Terpadu. UGM, Yogyakarta, 24-25 Februari 2004.
  • Copping, LG (editor, 2004): The Manual of Biocontrol Agents. BCPC
  • Extoxnet (1996): Abamectin. Extesion Toxicology Network. http://npic.orst.edu/
  • Fisher, Hans-Peter, et al (1922): New Agrochemicals Based on Microbial Metabolites: New Biopesticides. Proceeding of the ’92 Agricultural Biotechnology Symposium on Biopesticides, Korea, September 1992
  • Flint, Mary Louis dan Robert Bosch (1991): Pengendalian Hama Terpadu, Sebuah Pengantar. Edisi terjemahan Indonesia, Kanisius, Yogyakarta.
  • Habazar, Prof. Dr. Ir. Trimurti, dan Dr. Ir. Yaherwandi Msi (2006): Pengendalian Hayati Hama dan Penyakit Tumbuhan. Andalas University Press, Padang.
  • Luthy, P (1993): Tailor-Made Insect Control with Bacillus thuringiensis. Insect Control No. 20, May 1993.    
  • Novizan, Ir. (2002): Membuat dan Memanfaatkan Pestisida Ramah Lingkungan. AgroMedia Pustaka, Jakarta.
  • NPTN: Bacillus thuringiensis, General Fact Sheet. National Pesticide Telecommunications Network. http://nptn.orst.edu/
  • NPTN: Pyrethrin & Pyrethroid. National Pesticide Telecommunications Network. http://nptn.orst.edu/
  • Pitterna, Thomas (1997): Macrolides as Pest Control Agents: Avermectin and Milbemycins. Insecticide Newsletter No. 3, December 1997
  • Shepard, B.M.; dkk (1987): Friends of Rice Farmer. Helpful Insects, Spiders, and Pathogen. International Rice Research Institute. Los Banos, Laguna, the Philippines.
  • Singleton, Paul; dan Diana Sainsbury (19981): Dictionary of Microbiology. John Wiley & Sons.
  • Tomlin, CDS (editor, 2001): The Pesticide Manual. BCPC
  • Wood, Alan (1995-2007): Compendium of Pesticide Common Name: Insecticides. http://www.alanwood.net/.
Demikian sebagian artikel yang ditulis oleh Bapak Panut Djojosumarto tentang Insektisida dan Akarisida Yang Berasal Dari Alam yang kali ini dengan sub judul Insektisida nabati. Semoga bisa menjadi pedoman bagi petani Indonesia dalam memilih bahan nabati untuk mengendalikan serangan hama maupun penyakit pada tanamannya.

CARA MENGAWETKAN / MEMFERMENTASI PAKAN TERNAK HIJAUAN

Pakan ternak terutama kambing seringkali tidak mudah tersedia sepanjang tahun. Jika musim hujan biasanya melimpah dan sangat mudah mendapatkan pakan ternak hijauan sementara di musim kemarau seringkali kita kesulitan mendapatkannya. Hal ini tentunya berhubungan dengan ketersediaan air untuk hidup tanaman tersebut dimana saat musim kemarau kondisi tanah dan udara kering karena curah hujan sangat minim
Untuk mengatasi ketersediaan pakan ternak dimusim kemarau yang notabene sangat sulit dicari bisa dilakukan dengan cara mengawetkan stok pakan hijauan dimusim hujan. Cara yang mudah, murah dan bisa meningkatkan nilai nutrisi pakan ternak hijauan adalah dengan cara difermentasi. Adapun cara pengawetan/ memfermentasi pakan ternak hijaun adalah sebagai berikut:
Alat dan Bahan:
  1. Drum plastik kapasitas 200 Liter yang bisa ditutup sempurna
  2. Pengaduk sepanjang tinggi drum
  3. Pemotong pakan hijauan
  4. Pakan hijaun 85 Kg
  5. Gaber (ampas tepung tapioka) 5 Kg
  6. Dedak atau bekatul 10 Kg
  7. Tetes tebu atau gula pasir secukupnya
  8. Mikroorganisme (EM4, MOL, Mbio, Agri simba dll)
  9. Air secukupnya
Cara Pembuatan:
  1. Pakan hijauan dipotong kecil-kecil kurang lebih 0,5-1 Cm
  2. Tetes tebu atau gula pasir + Mikroorganisme dicampur air secukupnya diaduk aduk hingga larut sempurna
  3. Potongan pakan dicampur dengan dedak atau bekatul dan gaber
  4. Kemudian percikkan larutan tetes dan mikroorganisme tadi hingga basah tetapi jangan sampai menetes.
  5. Masukkan kedalam drum dan tutup rapat jangan sampai ada udara yang masuk.
  6. Biarkan selama 21 hari
Cara Penyajian:
  1. Pakan hijauan yang telah difermentasi selama 21 hari bisa disajikan dengan dicampur terlebih dahulu dengan bekatul dan garam dan diberikan secara selang seling dengan pakan hijauan yang ada.
  2. Bisa juga pakan tadi disimpan untuk keperluan pakan saat pakan hijauan susah dicari (dimusim kemarau).
  3. Jika disimpan pakan hijauan hasil fermentasi tadi bisa tahan sampai 1 tahun.
Demikian cara pengawetan pakan hijauan yang sederhana dan mudah dilakukan oleh petani, selamat mencoba dan semoga bisa bermanfaat untuk mengatasi kesulitan pakan ternak saat musim kemarau. Jika ada pembaca yang ingin memberikan kritik, saran ataupun tambahan informasi saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Silakan berikan melalui kolom komentar yang telah tersedia.

TEKNIS MENGOCOR TANAMAN CABAI YANG TEPAT

Artikel tentang teknis mengocor tanaman cabai sebenarnya bukanlah hal yang baru dan asing bagi petani cabai. Tulisan ini hanya saya tujukan kepada para petani cabai yang baru saja memulai usahanya atau para petani cabai yang belum tepat dalam melakukan pengocoran pupuk pada tanamannya.
Teknis mengocor tanaman cabai merupakan hal yang penting dalam budidaya tanaman cabai menggunakan mulsa plastik. Pada budidaya tanaman cabai menggunakan mulsa plastik tentu kita kesulitan dalam mengaplikasi pupuk susulan karena adanya mulsa yang menghalangi kita dalam membuat lobang pupuk. Oleh karena itu pengocoran ini perlu kita lakukan untuk memberikan pupuk susulan pada lahan cabai yang menggunakan mulsa plastik.
Teknis pengocoran tanaman cabai saya katakan penting karena juga akan mempengaruhi sistem kesehatan tanaman cabai tersebut. Dengan teknis pengocoran yang kurang tepat bisa jadi pemicu timbulnya penyakit layu pada tanaman cabai kita. Banyak dari petani cabai kita yang asal-asalan dalam pengaplikasihan pupuk susulan melalui pengocoran.
Inti utama dari masalah pengocoran ini adalah bagaimana kita mensiasati agar cairan larutan pupuk yang kita kocorkan tidak mengenai pangkal batang tanaman cabai kita. Usahakan larutan pupuk tersebut berjarak sekitar 5-10 cm dari pangkal batang. Alasannya adalah jika kita mengocor tanaman cabai pada pangkal batang justru akan melukai batang tanaman cabai tersebut. Seperti kita ketahui bahwa pupuk terutama Nitrogen bersifat panas dan akan melukai tanaman jika dosis terlalu banyak. Selain itu cara tersebut juga kurang efektif karena bagian akar yang menyerap unsur hara adalah ujung-ujung akar tanaman yang berjarak sampai lebih dari 20 cm dari pangkal batang cabai.
Secara teknis pengocoran yang tepat bisa dilakukan dengan cara menggunakan corong yang ujungnya disambung dengan selang plastik sepangjang 20-30 cm. Kemudian ujung selang tersebut dimasukkan kedalam mulsa sampai berjarak sekitar 10 cm dari pangkal tanaman cabai. Kemudian larutan pupuk tersebut kita siramkan pada corong tersebut sehingga larutan akan meluncur dari corong keujung selang yang yang berada dalam mulsa tersebut.
Adapun jenis pupuk dan berapa dosis pupuk yang tepat untuk kita gunakan dalam pengocoran tanaman cabai tersebut sifatnya relatif atau terserah anda. Tetapi kalau boleh saya menyarankan gunakan pupuk NPK yang mudah larut dalam air (Jangan gunakan NPK Pelangi untuk pengocoran). Jika anda ingin pupuk bersubsidi gunakanlah NPK Ponska jika anda menginginkan pupuk buatan luar negeri gunakan NPK Mutiara, NPK dari Hidro Karate ataupun NPK BASF yang tentunya harganya jauh lebih mahal. Untuk konsentrasi penggunaanya juga terserah anda yang penting jangan terlalu pekat maksimal 10 gr/ liter air.
Demikian sedikit tulisan tentang teknis cara mengocor tanaman cabai yang tepat, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Kritik dan saran selalu saya harapkan silahkan isikan pada kolom komentar. Trimakasih.

MEMBUAT BENIH PADI UNGGUL

Salam Pertanian!! Rekan-rekan Kerajaan Tani semua, kali ini kita akan belajar bersama membuat benih padi unggul. Benih padi yang unggul sangat penting sekali bagi kita karena benih merupakan faktor utama dan penentu keberhasilan budidaya kita. Bagaimanapun baikknya perawatan tanaman yang kita lakukan tidak akan ada gunanya jika benih yang kita gunakan sangat jelek.
Kini sangat banyak benih padi yang beredar di pasaran, namun apakah semuanya mempunyai kualitas yang baik? Seringkali kita menemukan kejadian walaupun benih yang kita gunakan tersebut telah bersertifikat dan berlabel namun setelah kita tanam hasilnya kurang memuaskan. Iyah, namanya juga jaman sekarang apa saja bisa dicurangin.
Langkah yang utama untuk membuat benih padi yang unggul adalah kita harus memiliki benih padi  berlabel putih, benih dengan label putih bisa kita dapatkan di balai benih padi setempat.  Seandainya kita kesulitan mendapatkan benih berlabel putih kita bisa juga menggunakan benih yang berlabel ungu. Benih berlabel ungu bisa kita dapatkan di kios-kios pertanian. Kebutuhan benih sekitar 25 Kg untuk lahan 1 ha.
Langka yang kedua kita siapkan lahan untuk menanam padi tersebut. Lahan harus terisolasi dengan tanaman padi yang lain agar kemurniannya terjaga. Jarak antar lahan dan tanaman padi yang lain minimal 10 m. Atau paling enak kalau kita menanamnya berbeda waktu dengan tanaman padi yang lain. Terserah saja caranya yang penting jangan sampai waktu pembungaannya sama.
Sebelum benih label putih/ ungu  kita semai, sebaiknya kita seleksi dulu dengan menggunakan air garam/ air abu. Gunakan benih yang terendam dan jangan gunakan benih yang mengapung. Rendam dengan air bersih selama 24 jam dan tiriskan selama 24 jam pula. Namun jika calon akar belum ada 0,5 cm pemeraman bisa diperlama 24 jam lagi.
Lahan pesemaian kita siapkan seperti biasa dengan luas kurang lebih 20 % dari luas lahan. Cara pembuatan bibit seperti padi bisaa, hanya yang harus diperhatikan adalah saat bibit padi umur 1 minggu sebaiknya kita beri NPK secukupnya. Dan saat bibit satu minggu menjelang  tanam sebaiknya kita aplikasi pestisida, agar saat penanaman nanti tidak ada hama dan penyakit yang terbawa ke pertanaman.
Cara penanaman benih padi unggul yang baik adalah harus memerhatikan jarak tanam, yaitu jangan kurang dari 22 cm. Dan gunakan sistem tanam legowo maksimal 4:1. Tanam harus umur muda, kurang dari 18 hss. Saat pelaksanaan jangan terlalu dalam. Gunakan cara tanam jiwir 1-2 batang per lubang. Inilah kunci untuk meningkatkan produksi benih padi unggul.
Dalam pemeliharaan yang paling penting adalah pengairan yang berselang, yaitu pemberian air dan buang air sampai tanah agak mengering. Tanaman jangan selalu direndam air. Pemupukan gunakan NPK 300 kg/ ha dan tambahkan urea 100 kg/ha atau sesuaikan kebutuhan dengan menggunakan bagan warna daun.  Pemupukan bisa diberikan 2 kali ataupun 3 kali.
Ketika tanaman benih padi unggul telah berbuah maka perlu dilakukan penyortiran, hal ini berguna untuk meningkatkan kemurnian benih. Penyortiran dilakukan dengan cara membuang/ memangkas bulir-bulir padi yang berbeda varietasnya. Pemangkasan juga dilakukan terhadap jenis gulma yang sefamili dengan padi.
Ada trik juga untuk memantapkan pengisian bulir, yaitu dengan cara menambahkan pupuk NPK ketika bulir padi telah masak susu. Hal ini berfungsi untuk memperlama proses pengisian dan memundurkan masa panen.
Pemanenan benih padi unggul dilakukan jangan bersamaan dengan tanaman padi konsumsi. Hal ini bertujuan agar supaya benih tidak tercampur dengan benih lain. Gunakan sabit yang bergerigi dan taruh potongan malai pada terpal atau karung bekas. Pemanenan dilakukan saat padi menguning sekitar 90 %.
Penjemuran calon benih padi unggul sebaiknya  tidak dilakukan dilantai jemur, tapi harus diberi alas terpal atau anyaman bambu. Penjemuran sebaikknya dilakukan saat pagi hari sekitar jam 07.00 sampai jam 10.00 dan sore hari sekitar jam 14.30 sampai jam 17.00. Keringkan sampai kadar air sekitar 14-12 %. Sebelum digunakan untuk benih sebaiknya benih padi unggul dilakukan stagnasi dulu (disimpan dalam karung) sekitar  1-2 minggu. Setelah proses stagnasi bibit padi unggul siap digunakan.

CARA MENINGKATKAN PRODUKSI TANAMAN PADI DENGAN SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO


Salam Pertanian!! Berbagai upaya untuk meningkatkan produksi tanaman padi telah dilakukan oleh petani-petani kita, baik dengan penggunaan bibit unggul, pemupukan yang tepat, pengairan yang cukup, pengendalian hama penyakit dan lain sebagainya. Kali ini kita akan sedikit membahas tentang cara meningkatkan produksi tanaman padi dengan sistem tanam legowo.
Legowo menurut bahasa jawa berasal dari kata “Lego” yang berarti luas dan “dowo” yang berarti panjang. Menurut beberapa informasi yang saya peroleh cara tanam ini pertama kali diperkenalkan oleh Bapak Legowo kepala dinas pertanian kabupaten Banjar Negara.
Pada prinsipnya sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan populasi dengan cara mengatur jarak tanam. Selain itu sistem tanam tersebut juga memanpulasi lokasi tanaman sehingga seolah-olah tanaman padi dibuat menjadi taping (tanaman pinggir) lebih banyak. Seperti kita ketahui tanaman padi yang berada dipinggir akan menghasilkan produksi lebih tinggi dan kualitas gabah yang lebih baik hal ini disebabkan karena tanaman tepi akan mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak.
Ada beberapa tipe sistem tanam jajar legowo:
  1. Jajar legowo 2:1. Setiap dua baris diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Namun jarak tanam dalam barisan yang memanjang dipersempit menjadi setengah jarak tanam dalam barisan.
  2. Jajar legowo 3:1. Setiap tiga baris tanaman padi diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Jarak tanam tanaman padi yang dipinggir dirapatkan dua kali dengan jarak tanam yang ditengah.
  3. Jajar legowo 4:1. Setiap tiga baris tanaman padi diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Demikian seterusnya. Jarak tanam yang dipinggir setengah dari jarak tanam yang ditengah.
Contoh gambar  sistem tanam jajar legowo 2:1 dan 4:1
LEGOWO
Untuk menghitung peningkatan populasi dengan sitem tanam jajar legowo bisa menggunakan rumus :       100% X  1 : ( 1 + jumlah legowo).
contoh:
  • untuk legowo 2:1 peningkatan populasinya adalah :  100%  X  1 : (1 + 2) = 30%
  • untuk legowo 3:1 peningkatan populasinya adalah :  100%  X  1 : (1 + 3) = 25%
  • Untuk legowo 4:1 peningkatan popuasinya adalah :  100%  X  1 :  (1 + 4) = 20%
  • Untuk legowo 5:1 peningkatan popuasinya adalah :  100%  X  1 :  (1 + 5) = 16,6%

Adapun manfaat sistem tanam jajar legowo adalah:
  1. Menambah jumlah tanaman padi seperti perhitungan diatas
  2. Otomatis juga akan meningkatkan produksi tanaman padi
  3. Memperbaiki kualitas gabah dengan semakin banyaknya tanaman pinggir
  4. Mengurangi serangan penyakit
  5. Mengurangi tingkat serangan hama
  6. Mempermudah dalam perawatan baik itu pemupukan maupun penyemprotan pestisida
  7. Menghemat pupuk karena yang dipupuk hanya bagian dalam baris tanaman
Selain manfaat sistem tanam jajar legowo juga punya kelemahan antara lain:
  1. Membutuhkan tenaga tanam yang lebih banyak dan waktu tanam yang lebih lama pula
  2. Membutuhkan benih yang lebih banyak dengan semakin banyaknya populasi.
  3. Biasanya pada legowonya akan lebih banyak ditumbuhi rumput
Demikian sedikit tulisan tentang cara meningkatkan produksi tanaman padi dengan cara tanam sistem legowo, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Untuk kritik dan saran silahkan kirimkan pada kolom komentar dibawah ini.

MENGUKUR pH TANAH DENGAN KERTAS LAKMUS/ pH INDIKATOR

Kali ini Kerajaan Tani akan membagikan tips bagaimana cara sederhana dan mudah mengukur pH tanah menggunakan kertas lakmus atau pH indikator. Ini adalah cara yang biasa digunakan para petani bukan untuk tujuan penelitian dalam bidang ilmu tanah. Yach karena Kerajaan Tani ditulis memang untuk para petani, dan penjelasannyapun menggunakan bahasa petani yang cenderung sederhana.
Pengukuran pH tanah bisa dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan kertas lakmus, pH indikator dan pH meter. Pengukuran yang paling akurat adalah menggunakan pH meter, namun sayang alat tersebut sangatlah mahal sehingga kurang terjangkau bagi kita para petani kecil. Oleh karena itu kita hanya akan membahas cara menggunakan kertas lakmus atau pH indikator yang harganya sangat terjangkau oleh kantong kita.
Langsung praktek aja ya,
Alat dan Bahan:
  1. Kertas lakmus atau pH indikator
  2. Air aqua
  3. Gelas aqua
  4. Sendok teh
  5. Sampel tanah (cara mengambil sample tanah: ambil tanah kering dari empat ujung dan tengah-tengah lahan kita, campurkan secara merata, jemur beberapa jam supaya kering. Ini bertujuan agar tanah yang akan diukur pHnya merupakan bagian yang rata dari lahan kita)
Cara pengukuran:
  1. Ambil sedikit sample tanah dan air aqua dengan perbandingan 1 : 1,
  2. Masukkan dalam gelas aqua
  3. Aduk-aduk hingga benar-benar homogen (merata)
  4. Biarkan beberapa menit hingga campuran air dan tanah tadi memisah (tanahnya mengendap)
  5. Setelah airnya terlihat agak jernih masukkan ujung kertas lakmus atau pH Indikator kedalam campuran tadi (sekitas 1 menit) tetapi jangan sampai mengenai tanahnya.
  6. Tunggu beberapa saat sampai kertas lakmus atau pH indikator berubah warnanya.
  7. Setelah warnanya stabil, cocokkan warna yang diperoleh oleh kertas lakmus atau pH indikator tadi dengan bagan warna petunjuknya.
  8. Kita akan segera tahu pH tanah kita berapa.
Sangat mudah bukan?
Seperti kita ketahui bersama pH tanah sangatlah penting dalam ilmu pertanian karena pH tanah akan menentukan kesuburan suatu tanaman. Kenapa demikian ? Karena pH tanah sangat menentukan bisa atau tidak suatu unsur hara dalam tanah diserap oleh akar tanaman.
pH adalah tingakat keasaman atau kebasa-an suatu benda yang diukur dengan menggunakan skala pH antara 0 hingga 14. Sifat asam mempunyai pH antara 0 hingga 7 dan sifat basa mempunyai nilai pH 7 hingga 14. Sebagai contoh, jus jeruk dan air aki mempunyai pH antara 0 hingga 7, sedangkan air laut dan cairan pemutih mempunyai sifat basa (yang juga di sebut sebagai alkaline) dengan nilai pH 7 – 14. Air murni adalah netral atau mempunyai nilai pH 7.
Biasanya jika pH tanah semakin tinggi maka unsur hara akan semakin sulit diserap tanaman, demikian juga sebaliknya jika terlalu rendah akar juga akan kesulitan menyerap makanannya yang berada dalam tanah. Akar tanaman akan mudah menyerap unsur hara atau pupuk yang kita berikan jika pH dalam tanah sedang-sedang saja (cenderung netral).
Jika pH larutan tanah meningkat hingga di atas 5,5; Nitrogen (dalam bentuk nitrat) menjadi tersedia bagi tanaman. Di sisi lain Pospor akan tersedia bagi tanaman pada Ph antara 6,0 hingga 7,0.
Beberapa bakteri membantu tanaman mendapatkan N dengan mengubah N di atmosfer menjadi bentuk N yang dapat digunakan oleh tanaman. Bakteri ini hidup di dalam nodule akar tanaman legume (seperti alfalfa dan kedelai) dan berfungsi secara baik bilamana tanaman dimana bakteri tersebut hidup tumbuh pada tanah dengan kisaran pH yang sesuai.
Sebagai contoh kedelai tumbuh dengan baik pada tanah dengan kisaran pH 6,0 hingga 7,0. Kacang tanah tumbuh dengan baik pada tanah dengan pH 5,3 hingga 6,6. Banyak tanaman termasuk sayuran, bunga dan semak-semak serta buah-buahan tergantung dengan pH dan ketersediaan tanah yang mengandung nutrisi yang cukup.
Jika larutan tanah terlalu masam, tanaman tidak dapat memanfaatkan N, P, K dan zat hara lain yang mereka butuhkan. Pada tanah masam, tanaman mempunyai kemungkinan yang besar untuk teracuni logam berat yang pada akhirnya dapat mati karena keracunan tersebut.
Demikian sekelumit tips dari Kerajaan Tani tentang bagaimana cara mengukur pH tanah menggunakan kertas lakmus atau pH meter, semoga bisa bermanfaat bagi pembaca semua. Dan harapan saya tentunya akan bisa lebih meningkatkan hasil pertanian dari para petani kita.

Selasa, 29 November 2011

FUNGSI DAN CARA MEMBUAT ARANG SEKAM

Jumpa lagi dengan Kerajaan Tani, kali ini kita akan sedikit membahas tentang fungsi dan cara pembuatan arang sekam. Limbah tanaman padi yang berupa sekam seringkali menjadi masalah tersendiri bagi kita. Kalau didaerah saya sekam padi sebagian besar digunakan hanya untuk bahan campuran pembuatan batu bata. Menurut saya limbah sekam jangan hanya digunakan untuk bahan bangunan karena sangat bagus kalau digunakan sebagai bahan penyubur tanah kita. Jika anda punya hasrat bisnis, arang sekam juga bisa dijual ditoko tanaman hias karena digunakan sebagi bahan dasar media tanaman hias.
Pada lahan pertanian arang sekam sangat baik untuk membantu menyuburkan tanah kita. Menurut beberapa informasi arang sekam bisa berfungsi sebagai penyimpan sementara unsur hara dalam tanah sehingga tidak mudah tercuci oleh air. Dan akan sangat mudah dilepaskan ketika dibutuhkan atau diambil oleh akar tanaman. Bisa dikatakan arang sekam akan berfungsi seperti zeolit.
Arang sekam memiliki peranan penting sebagai media tanam pengganti tanah. Arang sekam bersifat porous, ringan, tidak kotor dan cukup dapat menahan air. Penggunaan arang sekam cukup meluas dalam budidaya tanaman hias maaupun sayuran (terutama budidaya secara hidroponik). Arang sekam dapat dengan mudah diperoleh di toko-toko pertanian. Namun tidak ada salahnya memproduksi sendiri arang sekam untuk keperluan sendiri dan bahkan mungkin dapat menjualnya nanti.
Sebenarnya ada beberapa cara pembuatan arang sekam, namun yang akan kami sampaikan hanya 3 cara;
1. Pembuatan arang sekam dengan cara disangrai
Pada prinsipnya pembuatan arang sekam dengan cara ini adalah dengan cara disangrai. Peralatan yang diperlukan adalah tungku dan seng. Caranya, sekam padi diletakkan di atas seng yang telah ditempatkan di atas tungku. Selanjutnya sekam disangrai sambil diaduk. Dengan cara ini akan diperoleh arang sekam sebanyak 40-50 kg dari 100 kg sekam segar.
2. Pembuatan arang sekam dengan cara dibakar dalam tong perlahan-lahan
Caranya, masukkan sekam ke dalam tong sampai tinggi sekitar 20 cm. Tuang oli ke dalam tong dan bakar. Jika asap dari pembakaran berkurang maka sekam ditambah sedikit demi sedikit hingga tong penuh. Kemudian tong ditutup karung basah dan di atasnya diberi tutup hingga rapat. Biarkan sekam menjadi dingin. Setelah itu pisahkan arang sekam dengan abunya melalui penyaringan. Jumlah arang sekam yang diperoleh juga sekitar 40-50 kg dari 100 kg sekam segar. Cara ini kurang efisien karena memerluan waktu yang lebih lama dibandingkan cara disangrai.
3. Pembuatan arang sekam dengan cara dibakar bersamaan dalam drum. Letakkan pralon atau bambu ditengah drum. Tuangkan sekam disekeliing bambu tadi sambil dipadatkan hingga drum terisi penuh dengan sekam. Cabut bambu/ pralon tani. Buatlah sumber api dilubang tadi menggunakan kayu bakar atau yang lain. Biarkan asap mengepul hingga sekam menjadi arang semua.
Terserah anda mau pilih dengan cara yang mana, terpenting bisa digunakan untuk merubah limbah sekam menjadi arang sekam yang bermanfaat bagi lingkungan kita. Demikian sedikit tips dari Kerajaan Tani tentang fungsi dan cara pembuatan arang sekam. Semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.

readbud - get paid to read and rate articles

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More